Prabowo Resmikan Bendungan Keureuto dan Rukoh, Mualem Sampaikan Terima Kasih
- Presiden Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh, sementara Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan apresiasi atas penyelesaian dua proyek strategis tersebut.
- Kedua bendungan mampu melayani irigasi seluas 26.889 hektare, menyediakan air baku, mengendalikan banjir, serta memiliki potensi pengembangan energi listrik.
- Pemerintah Aceh menilai Bendungan Keureuto dan Rukoh menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan, ketahanan air, dan mendukung program swasembada pangan nasional.
, Banda Aceh – Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyampaikan terima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas peresmian Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara dan Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie. Kehadiran dua bendungan tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat sektor pertanian, ketahanan pangan, serta pengelolaan sumber daya air di Aceh.
“Berfungsinya dua bendungan itu sangat bermanfaat bagi para petani di Aceh,” kata Mualem, Sabtu (11/7/2026).
Presiden Prabowo meresmikan Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh bersama tiga bendungan lainnya pada Jumat (10/7/2026). Peresmian dipusatkan di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), sementara empat bendungan lainnya, termasuk dua bendungan di Aceh, diresmikan secara hybrid.
Mewakili Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M. Nasir Syamaun bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh mengikuti prosesi peresmian secara virtual dari lokasi Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie.
Dalam kesempatan itu, Sekda Aceh menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, yang telah menyelesaikan pembangunan dua bendungan strategis tersebut.
“Pemerintah Aceh menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum atas penyelesaian dua bendungan di Aceh,” ujar Nasir.
Bendungan Keureuto dibangun sejak 2015 dengan nilai kontrak sekitar Rp2,961 triliun, sedangkan Bendungan Rukoh mulai dibangun pada 2018 dengan nilai kontrak sekitar Rp1,7 triliun.
Menurut Nasir, kedua bendungan tersebut merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang akan memperkuat ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan energi, sekaligus mendukung pengendalian banjir di Aceh.
Secara keseluruhan, Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh mampu melayani irigasi seluas 26.889 hektare lahan pertanian.
Bendungan Keureuto memiliki kapasitas tampung 215 juta meter kubik air dan mampu mengairi 14.695 hektare lahan pertanian. Bendungan ini juga menyediakan air baku sebesar 650 liter per detik, mengendalikan banjir di kawasan seluas 627 hektare, serta memiliki potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 6,34 megawatt (MW) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung hingga 179 MW.
Sementara itu, Bendungan Rukoh memiliki kapasitas tampung 128 juta meter kubik air. Bendungan tersebut mengairi 12.194 hektare lahan di Daerah Irigasi Baro Raya, menyediakan air baku 900 liter per detik untuk 20 kecamatan, mengendalikan banjir di area seluas 51 hektare, serta memiliki potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 1,22 MW dan PLTS sebesar 137 MW.
Selain memperkuat irigasi, optimalisasi dua bendungan itu juga diharapkan mendukung program swasembada pangan nasional melalui peningkatan indeks pertanaman, memperkuat ketahanan air bagi masyarakat dan kawasan industri, mendorong pengembangan energi hijau, serta mengurangi risiko banjir di Aceh.[]
