Wagub Aceh Lapor Ke Mendagri Tito Soal Krisis Semen, Rehab-Rekon Terancam Terganggu
- Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah melaporkan krisis pasokan semen kepada Mendagri Tito Karnavian karena mengancam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi di Aceh.
- Kebutuhan semen di Aceh mencapai 4.200 ton per hari, sementara pasokan hanya 3.700 ton per hari sehingga terjadi defisit sekitar 500 ton per hari yang memicu kenaikan harga semen hingga Rp120 ribu per sak.
- Pemerintah Pusat dan Danantara merespons laporan tersebut, sementara PT SBA menambah jam operasional terminal pengisian serta mendatangkan tambahan pasokan semen melalui tiga kapal untuk mengatasi kelangkaan.
, Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) melaporkan krisis pasokan semen di Aceh kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana. Langkah itu ditempuh karena kelangkaan semen dinilai mulai mengancam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi di Aceh.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Selasa (4/8/2026), mengatakan kelangkaan semen tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga berpotensi menghambat percepatan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Kelangkaan semen ini bisa mempengaruhi proses rehab-rekon pascabencana hidrometeorologi di Aceh,” kata Nurlis mengutip penyampaian Wakil Gubernur Aceh.
Menurut Nurlis, Mendagri Tito Karnavian langsung merespons laporan tersebut dan menyatakan akan segera mencari solusi atas persoalan kelangkaan semen di Aceh.
“Pak Mendagri langsung mengatakan kepada Pak Wagub bahwa beliau segera mencari solusi untuk menyelesaikan kelangkaan semen di Aceh,” ujarnya.
Selain kepada Mendagri, Fadhlullah juga menyampaikan persoalan tersebut kepada CEO Danantara Rosan Roeslani dan Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria. Laporan itu turut mendapat perhatian dari Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata.
“Beliau menyampaikan laporan Pak Wagub menjadi atensi dan segera dicarikan solusi,” kata Nurlis.
Ia menjelaskan, koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Danantara merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Aceh Muzakir Manaf agar seluruh hambatan yang berpotensi mengganggu percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat segera diselesaikan melalui sinergi antara Pemerintah Aceh, Pemerintah Pusat, dan BUMN.
Berdasarkan laporan yang disampaikan Wakil Gubernur, kebutuhan semen di Aceh meningkat tajam seiring dimulainya pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi serta meningkatnya aktivitas pembangunan di berbagai daerah.
Hasil evaluasi Pemerintah Aceh menunjukkan kebutuhan semen kini mencapai sekitar 4.200 ton per hari. Sementara itu, pasokan yang tersedia baru sekitar 3.700 ton per hari sehingga terjadi defisit sekitar 500 ton per hari atau setara 12.500 sak semen setiap hari.
Kondisi tersebut memicu lonjakan harga semen di pasaran dari sekitar Rp70.000 per sak menjadi Rp120.000 per sak. Kenaikan harga itu mulai berdampak terhadap masyarakat dan pelaksanaan berbagai proyek pembangunan.
Melalui laporannya kepada Pemerintah Pusat, Wakil Gubernur Aceh meminta dukungan agar penambahan pasokan semen ke Aceh dapat segera direalisasikan.
“Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon dukungan untuk dapat mempercepat penambahan pasokan semen ke Aceh, sehingga kebutuhan masyarakat dan percepatan rehabilitasi serta rekonstruksi pascabencana dapat terpenuhi, sekaligus menjaga stabilitas harga di pasaran,” demikian permintaan yang disampaikan Fadhlullah.
Sebelumnya, persoalan kelangkaan semen juga dibahas dalam rapat evaluasi yang dipimpin Asisten II Sekda Aceh Teuku Robby Izra di Kantor Gubernur Aceh, Senin (3/8/2026).
Dalam rapat tersebut, General Manager PT SBA R Adi Santosa menyampaikan sejumlah langkah untuk meningkatkan pasokan, di antaranya menambah jam operasional Terminal Pengisian Krueng Geukuh II dari 16 jam menjadi 24 jam per hari serta mendatangkan tambahan semen curah dari luar Aceh melalui tiga kapal pengiriman.
Kapal pertama telah bersandar di Pelabuhan Krueng Geukuh pada Minggu (2/8/2026) dengan membawa semen curah. Pengiriman berikutnya dijadwalkan berlangsung secara bertahap sepanjang Agustus guna menjaga ketersediaan pasokan semen di Aceh.[]

























Tinggalkan Balasan