Defisit Semen di Aceh Tembus 500 Ton per Hari, Harga Melonjak hingga Rp120 Ribu per Sak
- Aceh mengalami defisit pasokan semen sekitar 500 ton atau 12.500 sak per hari, sehingga harga semen di sejumlah daerah melonjak hingga Rp120 ribu per sak.
- Pemerintah Aceh bersama PT Solusi Bangun Andalas (SBA) menambah pasokan semen dari luar Aceh melalui tiga kapal dan mengoperasikan Terminal Pengisian Krueng Geukuh II selama 24 jam untuk mempercepat distribusi.
- Lonjakan kebutuhan semen dipicu meningkatnya proyek rehabilitasi pascabencana dan pembangunan lainnya, sementara pemerintah mengimbau distributor menjaga ketersediaan stok serta menstabilkan harga di pasaran.
, Banda Aceh – Pemerintah Aceh mengungkapkan pasokan semen di Aceh mengalami defisit sekitar 500 ton atau 12.500 sak per hari akibat lonjakan kebutuhan yang melampaui kapasitas produksi dan distribusi. Kondisi tersebut menyebabkan harga semen di sejumlah daerah melonjak hingga Rp100 ribu sampai Rp120 ribu per sak.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan Gubernur Aceh Muzakir Manaf telah menginstruksikan agar persoalan tersebut segera ditangani agar tidak menghambat pembangunan, terutama program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana serta kebutuhan masyarakat.
“Arahan gubernur jelas, pasokan semen harus segera dipulihkan agar tidak menghambat pembangunan, khususnya program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana maupun kebutuhan masyarakat,” kata Nurlis di Banda Aceh, Selasa (4/8/2026).
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, PT Solusi Bangun Andalas (SBA) akan mendatangkan tambahan pasokan semen dari luar Aceh melalui tiga kapal pengiriman. Selain itu, perusahaan juga mengoperasikan Terminal Pengisian Krueng Geukuh II selama 24 jam guna mempercepat distribusi semen ke berbagai daerah.
Berdasarkan data yang disampaikan Pemerintah Aceh, produksi semen PT SBA saat ini mencapai sekitar 3.700 ton atau 92.500 sak per hari. Sementara kebutuhan semen di Aceh diproyeksikan mencapai 4.200 ton atau 105.000 sak per hari, sehingga terjadi kekurangan sekitar 500 ton atau 12.500 sak setiap hari.
Nurlis menjelaskan lonjakan kebutuhan semen dipicu meningkatnya aktivitas pembangunan di Aceh, terutama untuk mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi, serta berbagai proyek pembangunan lainnya.
Akibat tingginya permintaan tersebut, harga semen di sejumlah wilayah mengalami kenaikan signifikan. Pemerintah Aceh menilai langkah cepat diperlukan agar distribusi kembali normal dan harga di pasaran dapat dikendalikan.
Sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan, kapal pertama yang membawa semen curah telah bersandar di Pelabuhan Krueng Geukuh pada 2 Agustus 2026. Selanjutnya, pengiriman tambahan melalui kapal lainnya akan dilakukan secara bertahap sepanjang Agustus untuk memastikan stok semen tetap tersedia.
Pemerintah Aceh juga telah menyiapkan data kebutuhan dan perkembangan harga semen di seluruh kabupaten dan kota sebagai dasar pengawasan distribusi.
Selain itu, distributor diimbau menjaga ketersediaan stok serta tidak menaikkan harga secara tidak wajar agar masyarakat tetap memperoleh semen dengan harga yang terjangkau.
Nurlis menegaskan Pemerintah Aceh akan terus melakukan evaluasi bersama PT SBA dan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan pasokan tetap terjaga, distribusi berjalan lancar, serta harga kembali stabil.
“Sehingga kebutuhan masyarakat serta pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh tidak mengalami hambatan,” ujar Nurlis.[]


























Tinggalkan Balasan