Rubio Tegaskan Stabilitas Taiwan Tetap Jadi Prioritas AS
- Marco Rubio menegaskan tidak ada perubahan dalam kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan.
- AS tetap memprioritaskan stabilitas dan mempertahankan status quo di Selat Taiwan.
- Rubio juga menegaskan bahwa penjualan senjata ke Taiwan tidak dipengaruhi tekanan dari China.
, Washington — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengatakan bahwa tidak ada perubahan dalam kebijakan Washington terhadap Taiwan. Ia menyebut, menjaga status quo di Selat Taiwan tetap menjadi prioritas utama AS untuk mempertahankan stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Selasa (2/6/2026), di tengah munculnya kekhawatiran terkait komitmen Washington terhadap Taiwan setelah pernyataan Presiden Donald Trump mengenai penjualan senjata kepada pulau tersebut.
“Hal yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa kami ingin melihat status quo tetap dipertahankan seperti saat ini. Itulah kebijakan kami. Itulah yang telah kami katakan. Dan itulah yang terus kami katakan,” ujar Rubio.
Penegasan itu muncul setelah Trump sebelumnya menyebut paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS untuk Taiwan sebagai “alat tawar yang sangat baik” dalam hubungan AS dengan China. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran di Taiwan dan sejumlah sekutu AS di Asia karena dinilai membuka peluang penggunaan isu keamanan Taiwan sebagai bagian dari negosiasi dengan Beijing.
Namun Rubio menegaskan kebijakan AS terhadap Taiwan tetap konsisten dan tidak berubah. Menurutnya, status paket penjualan senjata tersebut tidak berkaitan dengan tekanan dari China, melainkan merupakan keputusan yang berada di tangan Presiden AS terkait waktu dan mekanisme pelaksanaannya.
“Mereka terus-menerus membicarakan penjualan senjata ke Taiwan, tetapi hal itu sama sekali bukan faktor yang menghambat proses pengambilan keputusan kami,” katanya merujuk pada pemerintah China.
Dalam kesempatan itu, Rubio juga menyoroti pentingnya menjaga komunikasi antara AS dan China meskipun kedua negara masih menghadapi berbagai perbedaan strategis dan persaingan geopolitik yang panjang.
Menurutnya, sebagai dua negara paling berpengaruh di dunia, Washington dan Beijing harus terus membangun dialog guna mencegah potensi konflik yang dapat mengganggu stabilitas global.
“Jelas ada sejumlah persoalan yang sangat mengganggu dalam hubungan kami dengan China. Karena itu, yang kami coba lakukan adalah mengelola periode stabilitas strategis sambil menyadari bahwa ada bidang-bidang dalam hubungan kami yang akan tetap menghadapi persaingan selama beberapa dekade ke depan,” ujarnya.
Selain membahas Taiwan, Rubio juga memberikan pandangannya terkait sejumlah isu internasional lain, termasuk hubungan AS-China, konflik dengan Iran, NATO, mineral kritis, hingga penanganan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.
Terkait Iran, Rubio mengakui proses perundingan yang sedang berlangsung tidak berjalan mudah. Meski demikian, ia menyebut pemerintah Iran mulai menunjukkan kesediaan untuk membahas sejumlah aspek program nuklir yang sebelumnya enggan dinegosiasikan.[]
