Menunaikan Haji Tak Halangi Studi, Mahasiswa S3 UIN Ar-Raniry Seminar Proposal Secara Daring dari Makkah
- Mahasiswa S3 UIN Ar-Raniry mengikuti seminar proposal secara daring dari Makkah saat menunaikan ibadah haji.
- Penelitian mengangkat genealogi keilmuan dan jaringan sufi Abu Kuta Krueng di Aceh.
- Seminar menjadi bukti teknologi mendukung aktivitas akademik tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah.
, Makkah — Pelaksanaan ibadah haji tidak menghalangi aktivitas akademik seorang mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Di tengah rangkaian ibadah di Tanah Suci, mahasiswa doktor Tgk Mujlisal tetap mengikuti perkuliahan Mata Kuliah Seminar Proposal dan mempresentasikan proposal penelitiannya secara daring dari Makkah, Arab Saudi.
Perkuliahan yang berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) itu mempertemukan dosen dan mahasiswa dari Indonesia serta Arab Saudi melalui platform pembelajaran digital.
Momentum tersebut menjadi contoh bagaimana perkembangan teknologi memungkinkan proses akademik tetap berjalan tanpa terhalang jarak dan lokasi.
Dalam seminar tersebut, Mujlisal memaparkan proposal penelitian berjudul Genealogi Keilmuan dan Jaringan Sufi: Penelusuran Transmisi Pengetahuan dan Pengaruh Abu Kuta Krueng dalam Tradisi Sufi di Aceh.
Penelitian itu berupaya menelusuri jalur transmisi keilmuan Tgk. H. Usman bin Ali atau Abu Kuta Krueng, ulama Aceh yang dikenal memiliki pengaruh besar dalam pendidikan dayah dan perkembangan pemikiran Islam di Aceh.
Kajian tersebut juga menyoroti jaringan murid, sanad keilmuan, serta pengaruh pemikiran Abu Kuta Krueng dalam mempertahankan dan mengembangkan tradisi sufisme di Aceh. Topik itu dinilai relevan untuk memperkaya studi tentang jaringan ulama, tradisi intelektual Islam, dan perkembangan tasawuf di Aceh.
Menariknya, seminar proposal tersebut juga dibimbing langsung oleh Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof Dr H Syamsul Rijal MAg, yang saat ini juga sedang menunaikan ibadah haji di Arab Saudi.
Meski berada di tengah rangkaian ibadah, ia tetap mengikuti jalannya seminar dan memberikan berbagai masukan akademik terhadap proposal yang dipresentasikan.
Dalam arahannya, Syamsul Rijal menekankan pentingnya penguatan kerangka teoritik dalam menganalisis genealogi keilmuan dan jaringan sufi.
Ia juga mendorong agar penelitian tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi mampu menjelaskan pola transmisi pengetahuan, reproduksi otoritas keilmuan, serta kontribusi Abu Kuta Krueng terhadap keberlanjutan tradisi intelektual Islam di Aceh.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya aspek kebaruan penelitian dengan menghubungkan kajian jaringan ulama Aceh dengan teori jaringan intelektual Islam dan studi sufisme kontemporer.
Menurutnya, pendekatan tersebut dapat memperluas kontribusi penelitian, tidak hanya bagi kajian keislaman di Aceh, tetapi juga dalam pengembangan studi Islam di tingkat nasional dan internasional.
Perkuliahan yang berlangsung dari dua negara berbeda ini menunjukkan semakin terbukanya akses pendidikan tinggi melalui pemanfaatan teknologi digital.
Kehadiran mahasiswa dan dosen dari Tanah Suci dalam forum akademik menjadi bukti bahwa komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dengan pelaksanaan ibadah.[]
