Polda Aceh Selidiki Kericuhan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman
- Polda Aceh menyelidiki kericuhan yang terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Agustus 2026.
- Bentrokan massa dan aparat terjadi setelah pengibaran Bendera Bulan Bintang. Insiden menyebabkan sejumlah orang terluka dan kerusakan kendaraan, termasuk satu sepeda motor anggota TNI yang dibakar.
- Forkopimda Aceh memperkuat koordinasi keamanan dan akan melakukan analisis serta evaluasi secara rutin untuk menjaga situasi Aceh tetap aman, tenteram, dan kondusif.
, Banda Aceh – Polda Aceh masih melakukan penyelidikan terhadap kericuhan yang terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).
Kapolda Aceh Irjen Pol Rudy Setiawan mengatakan proses penyelidikan dilakukan untuk mengetahui secara menyeluruh rangkaian peristiwa yang memicu bentrokan antara massa dan aparat keamanan.
“Iya. Dengan kejadian yang kemarin, Polda Aceh sedang melakukan penyelidikan,” kata Rudy kepada wartawan seusai menghadiri upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Senin (17/8/2026).
Kericuhan terjadi setelah rangkaian kegiatan zikir dan doa bersama dalam rangka memperingati 21 tahun perdamaian Aceh. Situasi yang sebelumnya berlangsung tertib berubah memanas ketika sekelompok massa menurunkan Bendera Merah Putih dan mengibarkan Bendera Bulan Bintang.
Ketegangan kemudian berkembang menjadi bentrokan antara massa dan aparat keamanan. Massa dilaporkan melempari aparat menggunakan batu, sementara petugas merespons dengan tembakan peringatan dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.
Sejumlah orang dari kalangan massa maupun aparat dilaporkan mengalami luka. Namun, hingga kini belum terdapat data resmi mengenai jumlah korban.
Kericuhan juga mengakibatkan kerusakan sejumlah kendaraan. Satu unit sepeda motor milik anggota TNI dilaporkan dibakar massa dalam insiden tersebut.
Setelah bentrokan di kawasan Masjid Raya mereda, sebagian massa bergerak menuju Pendopo Gubernur Aceh. Di lokasi itu, massa kembali dilaporkan menurunkan Bendera Merah Putih dan mengibarkan Bendera Bulan Bintang serta mencopot lambang Burung Garuda yang terpasang di kawasan pendopo.
Pascakericuhan, pemerintah daerah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar pertemuan yang dipimpin Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah.
Menurut Rudy, pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat koordinasi antarunsur Forkopimda dalam menjaga keamanan dan stabilitas Aceh.
“Ya, kita bersama-sama kemarin dengan Forum Pimpinan Daerah yang dipimpin Bapak Wakil Gubernur dan seluruh stakeholder hadir di kantor gubernur,” ujarnya.
Rudy mengatakan koordinasi tersebut akan dilakukan secara rutin melalui kegiatan analisis dan evaluasi bersama Forkopimda setiap bulan.
Langkah itu ditujukan untuk memastikan kondisi Aceh tetap aman, tenteram, dan damai sekaligus mengantisipasi potensi gangguan keamanan.
Selain melakukan penyelidikan, aparat juga meningkatkan pengamanan di sejumlah titik strategis di Banda Aceh. Pemeriksaan kendaraan dilakukan di sejumlah jalur keluar kota, termasuk akses keluar Jalan Tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh).
Polda Aceh memastikan penanganan pascakericuhan dilakukan melalui proses penyelidikan, sementara koordinasi lintas lembaga terus diperkuat untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Aceh.[]

























Tinggalkan Balasan