22 Tahun Damai Aceh, Ribuan Warga Zikir dan Doa di Masjid Raya Baiturrahman
- Ribuan warga memadati Masjid Raya Baiturrahman sejak Subuh pada Sabtu (15/8/2026) untuk memperingati 22 tahun perdamaian RI-GAM.
- Peringatan diisi doa, zikir, dan orasi, dengan sejumlah warga turut menyampaikan aspirasi terkait kondisi lingkungan dan persoalan Aceh.
- Sejumlah bendera dibawa peserta, di antaranya bendera putih, bulan bintang, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
, Banda Aceh – Ribuan warga memadati kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), untuk memperingati 22 tahun perdamaian antara Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Warga mulai berdatangan dan berkumpul di kawasan masjid sejak selepas salat Subuh. Mereka mengisi momentum peringatan perdamaian dengan berdoa dan berzikir. Kegiatan kemudian diwarnai penyampaian sejumlah aspirasi melalui orasi.
Pantauan di lokasi, halaman Masjid Raya Baiturrahman dipenuhi masyarakat yang datang dari berbagai kalangan. Selain mengikuti rangkaian doa dan zikir, sejumlah warga membawa bendera putih, bendera bulan bintang, serta bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam orasinya, salah seorang peserta turut menyoroti kondisi lingkungan Aceh yang dinilai semakin memprihatinkan. Ia menyinggung kerusakan hutan dan eksploitasi sumber daya alam yang dinilai berdampak terhadap kondisi Aceh.
“Hutan Aceh diperkosa, alam Aceh dikeruk, sekarang Aceh begitu lemah,” ujar salah seorang orator.
Selain isu lingkungan, orator juga menyampaikan seruan agar masyarakat mendengarkan arahan ulama, termasuk terkait pengibaran bendera bulan bintang.
“Kalau ulama sudah menyuruh naikan bendera bulan bintang, maka naikan,” katanya.
Peringatan 22 tahun perdamaian Aceh tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengenang perjalanan perdamaian sekaligus menyampaikan berbagai persoalan yang masih menjadi perhatian di Aceh.
Sebelumnya, rangkaian peringatan Hari Damai Aceh juga diisi dengan zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman. Pemerintah Aceh menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum untuk menjaga dan memperkuat perdamaian yang telah berlangsung di Aceh.[]


























Tinggalkan Balasan