ADVERTISEMENT

Kemdiktisaintek Buka Beasiswa Doktor 2026 untuk Dosen, Dibiayai Penuh APBN

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. [Foto: Dok. UMY]
Ringkasan Berita
  • Kemdiktisaintek membuka kembali Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (BPDDI) 2026 yang dibiayai penuh melalui APBN guna meningkatkan kualifikasi akademik dosen.
  • Program ini menawarkan dua skema, yakni program doktor reguler di dalam negeri dan skema joint degree/dual degree dengan perguruan tinggi luar negeri.
  • Selain biaya pendidikan, penerima BPDDI juga memperoleh bantuan biaya hidup, penelitian, publikasi internasional, transportasi, asuransi kesehatan, hingga dukungan khusus bagi dosen penyandang disabilitas.

Inisiatif Logo, Jakarta — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kembali membuka Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (BPDDI) Tahun 2026. Program yang didanai penuh melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini ditujukan untuk meningkatkan kualifikasi akademik dosen sekaligus memperkuat kapasitas riset dan inovasi nasional.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa dosen merupakan aset terpenting dalam pembangunan pendidikan tinggi. Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kompetensi dosen melalui akses pendidikan doktor yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

“Dosen adalah aset terbesar dari pendidikan tinggi dan tentu kita berharap dosen tidak perlu menunggu lama bisa langsung segera kuliah,” kata Brian dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Menurutnya, berbagai perguruan tinggi di Indonesia kini telah memiliki program doktor dengan fasilitas yang semakin baik dan lengkap. Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi para dosen untuk melanjutkan studi dan meningkatkan kapasitas akademiknya.

ADVERTISEMENT

Brian mengajak para dosen memanfaatkan program BPDDI sebagai sarana untuk mengembangkan kompetensi sekaligus memperkuat kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di Indonesia.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT) Kemdiktisaintek, Sandro Mihradi, menjelaskan bahwa BPDDI merupakan salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan jumlah dosen bergelar doktor di Indonesia.

ADVERTISEMENT

Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2025, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 1.269 dosen dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

“Harapannya ini dapat memberikan dampak untuk meningkatkan kapasitas riset, teknologi, dan sains serta mendorong inovasi dan hilirisasi,” ujar Sandro.

BPDDI 2026 dibuka bagi dosen tetap perguruan tinggi yang berada di bawah koordinasi Kemdiktisaintek dan akan melanjutkan pendidikan doktor. Program ini dirancang untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan tinggi, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta daya saing perguruan tinggi Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

ADVERTISEMENT

Pada tahun ini, BPDDI menawarkan dua skema pembiayaan. Pertama, skema reguler bagi dosen yang menempuh studi doktor di perguruan tinggi dalam negeri, baik bagi mahasiswa baru maupun mahasiswa yang sedang menjalani studi maksimal semester tiga.

Kedua, skema joint degree atau dual degree melalui kerja sama antara perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri dengan masa pendanaan maksimal empat tahun.

Tidak hanya menanggung biaya kuliah, BPDDI juga menyediakan dukungan pembiayaan yang komprehensif. Penerima beasiswa akan mendapatkan bantuan biaya pendaftaran, penelitian dan disertasi, insentif publikasi jurnal internasional, biaya hidup bulanan, transportasi, asuransi kesehatan, hingga bantuan biaya keadaan darurat.

Khusus bagi dosen penyandang disabilitas, Kemdiktisaintek juga menyediakan dukungan tambahan berupa pembiayaan pendamping selama masa studi.[]

Editor : Ikbal Fanika
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT