Sambut Tahun Baru Islam, KNPI Banda Aceh Ajak Pemuda Hijrah dari Hoaks dan Prasangka
- KNPI Banda Aceh mengajak pemuda memaknai Tahun Baru Islam dengan berhijrah dari hoaks, prasangka, dan budaya saling curiga menuju sikap yang lebih bijak dan produktif.
- Pemuda didorong menerapkan prinsip tabayyun, lebih selektif menyaring informasi, serta tidak mudah menyebarkan berita yang belum terverifikasi di media sosial.
- Selain meningkatkan literasi digital, generasi muda juga diajak mengubah energi mereka menjadi aksi nyata melalui kegiatan sosial, kemanusiaan, dan mitigasi bencana.
, Banda Aceh — Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Banda Aceh mengajak generasi muda menjadikan momentum hijrah sebagai langkah nyata untuk meninggalkan hoaks, prasangka, dan budaya saling curiga yang kian marak di era digital.
Ajakan tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Bidang Sosial dan Bantuan Bencana KNPI Kota Banda Aceh, Ariyanda. Menurutnya, makna hijrah pada masa kini tidak lagi sebatas perpindahan secara fisik, tetapi juga perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku menuju hal yang lebih baik.
“Momentum Tahun Baru Islam ini adalah waktu yang tepat bagi kita semua untuk berhijrah dari sikap saling curiga menuju budaya saling percaya. Pemuda membutuhkan ruang dan kepercayaan, begitu juga sebaliknya. Kita butuh hubungan yang harmonis, di mana semua pihak mau mendengar tanpa prasangka agar energi positif pemuda bisa terarah secara produktif,” ujar Ariyanda dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/6/2026).
Ia menilai derasnya arus informasi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Tidak sedikit informasi yang beredar di media sosial belum terverifikasi, namun dengan mudah dibagikan dan dipercaya. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi memicu kesalahpahaman, konflik sosial, hingga perpecahan di tengah masyarakat.
Karena itu, Ariyanda mengingatkan pentingnya membangun budaya tabayyun atau klarifikasi sebelum menerima dan menyebarluaskan informasi. Menurutnya, pemuda harus menjadi kelompok yang berada di garda depan dalam melawan penyebaran hoaks dan narasi yang menimbulkan prasangka buruk.
“Pemuda harus lebih selektif dalam menyaring informasi. Jangan mudah percaya, apalagi menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Semangat hijrah harus diwujudkan dengan membangun kebiasaan berpikir kritis dan bertanggung jawab,” katanya.
Selain menjauhi hoaks, KNPI Banda Aceh juga mendorong pemuda untuk mengubah energi dan kreativitas yang dimiliki menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Ariyanda menilai, terlalu banyak energi anak muda yang habis di ruang digital untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak produktif.
Menurutnya, semangat hijrah harus diterjemahkan dalam bentuk kepedulian sosial, solidaritas, dan keterlibatan langsung dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Sudah saatnya pemuda mengubah kebiasaan hanya mengkritik tanpa data atau menjadi konsumen konten negatif. Energi itu harus diarahkan untuk menciptakan solusi, membantu masyarakat, dan menghadirkan manfaat nyata,” ujarnya.
KNPI juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kemanusiaan dan mitigasi bencana. Mengingat Aceh merupakan daerah yang memiliki tingkat kerawanan bencana tertentu, pemuda dinilai perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan agar mampu berkontribusi saat terjadi kondisi darurat.
Di sisi lain, Ariyanda mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membuka ruang dialog yang lebih luas bagi generasi muda. Menurutnya, hubungan yang sehat antara pemuda dan berbagai pihak hanya dapat terbangun jika ada kepercayaan dan komunikasi yang terbuka.
Ia berharap momentum Tahun Baru Islam tidak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan menjadi titik refleksi bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat persatuan, menghilangkan prasangka, dan membangun budaya saling percaya.
“Potensi pemuda Banda Aceh sangat besar. Jangan sampai energi itu habis terjebak dalam lingkaran hoaks, prasangka, dan konflik yang tidak produktif. Kuncinya adalah menjaga integritas berpikir, menjauhi prasangka, serta terus menebar kemanfaatan bagi sesama,” demikian Ariyanda.[]
