IHSG Diproyeksi Bergerak Datar, Investor Cermati Sentimen Global dan Status MSCI Indonesia
- IHSG diperkirakan bergerak datar dengan level support penting di kisaran 6.030–5.930, di tengah sikap hati-hati investor terhadap berbagai sentimen global dan domestik.
- Pasar mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran, risiko gangguan pasokan energi akibat ketegangan di Selat Hormuz, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
- Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil review MSCI Indonesia, implementasi program B50, serta rencana penerbitan Panda Bond dan instrumen pendanaan strategis lainnya
, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin diproyeksikan bergerak cenderung datar, seiring investor mencermati berbagai sentimen dari dalam negeri maupun global.
Pada awal sesi, IHSG sempat menguat 39,91 poin atau 0,65 persen ke level 6.217,05. Sementara itu, indeks LQ45 juga naik 4,74 poin atau 0,78 persen ke posisi 614,14.
“Kiwoom Research perlu ingatkan bahwa level support penting terletak pada range 6.030-5.930 seandainya IHSG masih perlu terkonsolidasi lagi,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari sisi global, pelaku pasar masih memantau perkembangan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pembicaraan yang sempat dijadwalkan di Swiss dilaporkan batal setelah Wakil Presiden AS JD Vance mundur, sementara Iran menuntut adanya bukti implementasi kesepakatan sebelum melanjutkan dialog.
Meski begitu, komunikasi kedua pihak disebut masih berlangsung di tengah ketegangan baru menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran serta langkah Iran yang kembali membatasi arus pelayaran di Selat Hormuz.
“Implementasi kesepakatan damai yang masih rapuh membuat risiko terhadap pasar energi, inflasi, dan sentimen global tetap perlu dicermati,” ujar Liza.
Di sisi lain, pasar juga memperhatikan peringatan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terkait potensi serangan besar Rusia, serta langkah Inggris yang mempercepat pengembangan rudal jarak jauh untuk Ukraina tanpa ketergantungan teknologi AS.
Investor turut menunggu pernyataan pejabat Federal Reserve, Christopher Waller, untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS setelah hasil Federal Open Market Committee (FOMC) yang dinilai lebih hawkish dari perkiraan.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada pengumuman MSCI terkait Annual Market Classification Review pada Rabu (24/06), yang akan menentukan apakah Indonesia tetap berada di kategori Emerging Market atau berpotensi turun ke Frontier Market.
Selain itu, pemerintah memastikan program mandatori B50 akan mulai berlaku 1 Juli 2026 sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional. Kebijakan ini didukung kesiapan pasokan CPO, FAME, serta aspek teknis dan industri terkait, dengan tujuan memperkuat energi domestik sekaligus mendorong permintaan sawit dalam negeri.
Di sisi pembiayaan, pemerintah mendapatkan dukungan dari pemerintah China dan PBOC untuk penerbitan perdana Panda Bond, termasuk percepatan proses perizinan sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pendanaan dan penguatan penggunaan mata uang lokal.
Sementara itu, revisi UU P2SK membuka peluang bagi peserta Tax Amnesty dan PPS untuk menempatkan dana pada Patriot Bond dan Merah Putih Bond yang diterbitkan Danantara, sebagai instrumen pendanaan proyek strategis nasional dengan dukungan insentif hukum dan perpajakan di pasar primer.
Pada penutupan perdagangan Jumat (19/06) sebelumnya, bursa saham Eropa kompak melemah, di antaranya Euro Stoxx 50 turun 0,48 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,35 persen, DAX Jerman turun 0,16 persen, dan CAC 40 Prancis melemah 0,55 persen.
Sementara itu, Wall Street tidak diperdagangkan karena libur nasional memperingati Juneteenth.
Bursa Asia pada perdagangan pagi ini bergerak beragam, dengan Nikkei menguat 2,24 persen ke 72.843,00, Shanghai melemah 0,09 persen ke 4.086,84, Hang Seng turun 1,44 persen ke 23.580,50, dan Straits Times melemah 0,12 persen ke 5.186,44.[]
