Trump Ingin Kesepakatan Abadi, Iran Diminta Tak Miliki Senjata Nuklir
- Trump menginginkan kesepakatan permanen agar Iran tidak memiliki senjata nuklir.
- AS mempertimbangkan kesepakatan sementara 20 tahun di tengah konflik.
- Peluang negosiasi damai masih terbuka dalam waktu dekat meski situasi memanas.
, Washington — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan jangka panjang–bahkan permanen–dengan Iran, yang memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada Kamis, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Saya ingin kesepakatan itu abadi. Saya ingin kesepakatan di mana mereka tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mendapatkan [senjata nuklir],” kata Trump.
Meski menargetkan kesepakatan permanen, Trump mengakui bahwa Amerika Serikat juga mempertimbangkan opsi kesepakatan sementara dengan durasi sekitar 20 tahun. Periode tersebut dinilai sebagai waktu yang dibutuhkan Iran untuk membangun kembali kemampuan nuklirnya.
Langkah ini mencerminkan pendekatan bertahap Washington dalam mengendalikan ambisi nuklir Teheran di tengah situasi yang masih dinamis.
Sebelumnya, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban sipil.
Ketegangan terus berlanjut hingga akhirnya pada 7 April, Washington dan Teheran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu.
Gencatan senjata itu kemudian diikuti dengan pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad. Namun, negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan konkret.
Pasca kegagalan tersebut, Amerika Serikat mengambil langkah tegas dengan menyatakan akan memblokade kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran.
Meski situasi kembali memanas, Trump menyebut peluang dialog tetap terbuka. Ia bahkan menyatakan Amerika Serikat akan memperpanjang gencatan senjata sambil melanjutkan blokade.
Trump juga mengungkapkan bahwa pembicaraan damai dengan Iran berpotensi kembali digelar dalam waktu dekat.
Menurutnya, negosiasi lanjutan “mungkin” akan berlangsung dalam 36 hingga 72 jam ke depan.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa di tengah tekanan militer dan ekonomi, jalur diplomasi masih menjadi opsi utama dalam meredakan konflik antara kedua negara.[]
