Trump Tolak Proposal Damai Iran, Sebut Tidak Dapat Diterima
- Trump menolak proposal damai Iran dan menyebutnya tidak dapat diterima.
- Iran menawarkan rencana tiga tahap termasuk penghentian konflik dan pembekuan nuklir.
- Ketegangan AS-Iran masih berlanjut meski ada upaya diplomasi.
, Washington — Upaya meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump, Minggu (3/5), menyatakan bahwa proposal damai yang diajukan Teheran tidak dapat diterima.
“(Proposal) itu tidak dapat saya terima. Saya telah mempelajarinya, saya sudah mempelajari semuanya — itu tidak dapat diterima,” kata Trump kepada penyiar Israel Kan.
Penolakan ini muncul di tengah dinamika konflik yang masih berlangsung antara kedua negara, meski sebelumnya sempat muncul harapan menuju deeskalasi.
Trump juga menyinggung operasi militer Amerika Serikat yang menurutnya berjalan sangat baik, meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait pernyataan tersebut.
Sebelumnya, laporan Al Jazeera menyebutkan bahwa Iran telah mengajukan rencana tiga tahap untuk mencapai perdamaian jangka panjang dengan Amerika Serikat.
Dalam tahap pertama, Iran mengusulkan penghentian total permusuhan dalam waktu 30 hari, disertai penerapan gencatan senjata di seluruh kawasan serta kesepakatan non-agresi antara kedua negara. Rencana ini juga mencakup keterlibatan sekutu Iran di kawasan serta Israel, serta pembentukan mekanisme pemantauan internasional guna mengawasi potensi pelanggaran.
Tahap kedua berfokus pada isu nuklir, dengan usulan pembekuan kegiatan pengayaan uranium selama 15 tahun. Selain itu, Iran juga bersedia membatasi tingkat pengayaan hingga 3,6 persen sesuai prinsip “zero storage”.
Sementara itu, tahap ketiga diarahkan pada pembangunan stabilitas kawasan dalam jangka panjang melalui dialog strategis antara Iran dengan negara-negara Arab dan negara tetangga, guna membentuk sistem keamanan bersama.
Namun, penolakan dari Washington menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih penuh tantangan. Perbedaan pandangan yang mendasar antara kedua pihak membuat peluang kompromi dalam waktu dekat masih belum pasti.
Situasi ini sekaligus menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berada pada fase sensitif, dengan berbagai upaya diplomasi yang belum sepenuhnya membuahkan hasil.[]
