Wabup Abdya Dorong Pertanian Modern Saat Musyawarah Turun Sawah
- Pemkab Abdya menggelar musyawarah turun sawah musim tanam gadu yang diikuti sekitar 300 peserta guna mendukung swasembada pangan dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
- Wabup Abdya Zaman Akli menilai musyawarah tersebut penting untuk menentukan jadwal tanam serentak, pola tanam, serta strategi menghadapi tantangan pertanian seperti perubahan iklim dan serangan hama.
- Pemkab Abdya mendorong penerapan pertanian modern melalui penggunaan benih unggul, pengelolaan irigasi, pemanfaatan alsintan, serta penguatan kesejahteraan petani melalui dukungan infrastruktur dan akses pasar.
, Blangpidie – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) melalui Dinas Pertanian menggelar musyawarah turun sawah musim tanam gadu sebagai upaya memperkuat swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani, Kamis (7/5/2026).
Kegiatan itu diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri dari Keujreun Blang, Hob Keujreun, kelompok tani andalan, Kelompok Tani Merdeka Indonesia, hingga unsur terkait lainnya.
Kepala Dinas Pertanian Abdya, Hendri Yadi, mengatakan musyawarah turun sawah menjadi bagian penting dalam menyusun langkah strategis menghadapi musim tanam sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.
“Musyawarah turun sawah ini merupakan upaya mendukung swasembada pangan di Kabupaten Aceh Barat Daya,” kata Hendri.
Sementara itu, Wakil Bupati Abdya, Zaman Akli, menyebut Aceh Barat Daya selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di wilayah Barat Selatan Aceh dengan luas lahan sawah mencapai 7.153 hektare.
Menurutnya, Abdya memiliki potensi besar di sektor pertanian karena didukung lahan subur, sumber air yang memadai, serta petani berpengalaman. Namun, ia mengingatkan tantangan sektor pertanian ke depan semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, ketidakpastian musim, serangan hama, hingga persoalan harga dan distribusi hasil panen.
“Musyawarah turun sawah ini sangat strategis karena menjadi tempat menentukan jadwal tanam serentak, pola tanam yang tepat, serta langkah teknis yang harus dilakukan bersama,” ujar Zaman.
Ia menilai keseragaman waktu tanam penting diterapkan guna membantu pengendalian hama sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.
Zaman juga menegaskan keberhasilan musim tanam tidak hanya bergantung pada petani, tetapi membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.
“Pemerintah daerah melalui dinas terkait harus hadir dengan program yang tepat sasaran, penyuluh harus aktif mendampingi petani di lapangan, dan petani juga harus terbuka terhadap inovasi serta teknologi pertanian,” katanya.
Ia turut mendorong petani mulai menerapkan sistem pertanian modern melalui penggunaan benih unggul, pemupukan tepat, pengelolaan irigasi yang baik, hingga pemanfaatan alat dan mesin pertanian.
Selain fokus pada peningkatan produksi, Pemkab Abdya juga menaruh perhatian terhadap kesejahteraan petani, terutama pada aspek pascapanen, distribusi hasil, dan akses pasar.
“Prioritas pertama kami adalah mensejahterakan petani. Memang masih banyak kebutuhan yang belum terpenuhi karena kami dilantik di tengah kondisi defisit anggaran. Namun, semua akan dilakukan secara bertahap,” ujar Zaman.
Ia menambahkan pemerintah daerah berkomitmen terus mendukung sektor pertanian melalui pembangunan infrastruktur, bantuan sarana produksi, serta penguatan kelembagaan petani.
Melalui musyawarah tersebut, Pemkab Abdya berharap tercapai kesepakatan terbaik demi kemajuan pertanian dan terwujudnya Aceh Barat Daya sebagai daerah mandiri pangan serta lumbung padi di tingkat provinsi maupun nasional.[]
