Atasi Kemiskinan Ekstrem, YARA Usul Pokir Dewan Abdya Dialihkan untuk Bangun Rumah Duafa
- YARA Abdya meminta DPRK menyisihkan sebagian dana pokir untuk pembangunan rumah layak huni bagi warga duafa.
- Keterbatasan anggaran Baitul Mal membuat banyak proposal bantuan rumah belum terealisasi.
- Jika 25 anggota dewan menyumbang Rp100 juta per tahun, potensi dana mencapai Rp2,5 miliar untuk bangun puluhan rumah.
, Blangpidie — Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Aceh Barat Daya (Abdya) mengusulkan agar anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) setempat menyisihkan sebagian anggaran pokok pikiran (pokir) untuk pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat duafa.
Usulan ini disampaikan menyusul banyaknya laporan masyarakat terkait kondisi rumah warga miskin dan fakir yang tidak layak huni, baik untuk direhabilitasi maupun dibangun baru.
“Kami minta anggota dewan menyisihkan sebagian anggaran pokir mereka guna diarahkan untuk pembangunan rumah tidak layak huni di Kabupaten Abdya,” ujar Ketua Perwakilan YARA Abdya, Suhaimi N, S.H, Jumat (17/4/2026).
Menurut Suhaimi, pembangunan rumah layak huni tidak hanya menjadi tanggung jawab Baitul Mal semata, melainkan merupakan tanggung jawab bersama, termasuk lembaga legislatif.
Ia menjelaskan, anggaran yang dikelola Baitul Mal bersumber dari dana umat seperti zakat dan infak yang jumlahnya terbatas setiap tahun. Hal itu berdampak pada terbatasnya jumlah rumah yang dapat dibangun.
“Dana zakat diperuntukkan bagi delapan asnaf sesuai syariat, sehingga tidak semuanya bisa dialokasikan untuk pembangunan rumah layak huni,” jelasnya.
Pria yang akrab disapa Shemy itu menambahkan, meskipun ada dana infak yang dapat digunakan untuk pembangunan rumah, jumlahnya tetap belum mampu mengakomodir seluruh kebutuhan masyarakat duafa di Abdya.
“Informasi dari Baitul Mal, ada ratusan proposal permohonan bantuan rumah yang masuk. Sementara anggaran yang tersedia sangat terbatas. Pihak Baitul Mal juga sudah melakukan verifikasi bertahap untuk memastikan bantuan tepat sasaran,” ungkapnya.
Karena itu, YARA menilai perlu adanya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penanganan kemiskinan ekstrem, salah satunya melalui pemanfaatan dana pokir anggota dewan.
Suhaimi bahkan memaparkan simulasi sederhana. Jika terdapat 25 anggota DPRK Abdya dan masing-masing menyisihkan Rp100 juta per tahun dari pokir mereka, maka akan terkumpul anggaran sekitar Rp2,5 miliar.
“Dana sebesar itu bisa digunakan untuk membangun puluhan rumah layak huni bagi keluarga miskin dan duafa di Abdya,” katanya.
Selain itu, YARA juga mengimbau perusahaan, pengusaha, serta masyarakat agar menyalurkan zakat dan infak melalui Baitul Mal sebagai lembaga resmi yang ditunjuk pemerintah.
“Untuk menuntaskan kemiskinan ekstrem, diperlukan peran semua pihak. Dana umat yang dikelola Baitul Mal harus didukung dengan partisipasi aktif masyarakat agar program pemberdayaan dan pembangunan rumah layak huni dapat berjalan maksimal,” tutup Suhaimi.[]
