ADVERTISEMENT

Estafet Pena Ulama

Muhammad Subhan. [Foto: Dokpri].

SEBAGAI seorang fakir ilmu, saya merasa tersanjung ketika seorang intelektual dan ulama muda asal Aceh, Dr. Nurkhalis Mukhtar, Lc., MA, mengungkapkan keinginannya untuk bertemu di Padang Panjang.

Melalui pesan singkat di Facebook, beliau mengabarkan rencana kunjungannya ke Ranah Minang.

ADVERTISEMENT

Saat ia tiba, kebetulan saya sedang disibukkan oleh sejumlah kegiatan literasi di Kabupaten Pasaman Barat, selama sepekan penuh. Saya menduga, dengan jadwal yang padat, dia mungkin sudah kembali ke Aceh atau Jakarta.

Di Aceh ia bermukim, sementara di Jakarta dia mengabdi sebagai dosen pada Program Pascasarjana di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

ADVERTISEMENT

Namun, dugaan saya salah.

Ustaz Nurkhalis rupanya masih menetap di Sumatera Barat untuk menuntaskan beberapa agenda. Begitu saya menginjakkan kaki kembali di Padang Panjang, ia mengirim pesan lagi.

ADVERTISEMENT

Beliau mengabarkan akan melaksanakan salat Jumat di Padang Panjang dan mengajak bertemu sesudahnya.

Maka, qadarullah, bersualah kami di sebuah lepau di tengah pasar Padang Panjang. Sambil menikmati segelas teh telur dan sepiring martabak, kami larut dalam diskusi, khususnya tentang tulis-menulis.

Ustaz Nurkhalis seorang penulis yang tekun. Kami berteman di media sosial meski belum pernah bertemu, dan dia mengaku sering membaca esai-esai saya di media massa yang sering saya bagikan di Facebook dan Instagram.

ADVERTISEMENT

Di sana, kami bertukar pikiran. Saya lebih banyak mendengarkan, menyimak mutiara-mutiara ilmu yang beliau sampaikan dengan kerendahan hati.

Ilmu yang tentu sangat berharga bagi saya pada sebuah pertemuan singkat di sela-sela rinai yang jatuh di luar dan hari berangkat menuju senja.

Pada kesempatan tersebut, Ustaz Nurkhalis menghadiahkan saya sebuah buku karyanya yang berjudul “55 Ulama Kharismatik Aceh”. Buku itu bukan sekadar biografi, melainkan upaya merekam kiprah dan jejak dakwah para pelita umat di Negeri Serambi Makkah, Aceh. Mulai dari Syekh Abdurrauf al-Singkili hingga Abu Daud Lhok Nibong.

Di buku itu banyak kisah ulama-ulama Aceh ternama yang tak asing di masyarakat dan cukup dikenal karena ‘kekaromahan’ (karamah) dan kealimannya.

Menariknya, buku ini lahir dari ketekunan Ustaz Nurkhalis membagikan tulisan pendek di media sosial.

Respons positif dari warganet yang menginginkan tulisan tersebut dibukukan akhirnya mendorong beliau mengabadikannya dalam bentuk fisik.

Kehadiran buku tersebut disambut luar biasa, tidak hanya oleh para santri dan keturunan ulama yang dikisahkan, tetapi juga oleh masyarakat umum. Banyak yang dirasa tercerahkan karena literatur yang membahas kiprah, sanad keilmuan, dan jejaring ulama Aceh tergolong langka.

Melalui karya ini, Ustaz Nurkhalis berharap sejarah tidak lekang dimakan zaman, sehingga generasi mendatang dapat memetik pelajaran berharga dari perjalanan hidup para pendahulu mereka.

Sosok Dr. Nurkhalis Mukhtar memang merepresentasikan profil intelektual Muslim yang produktif. Ia lahir di Susoh, Aceh Barat Daya, pada tanggal 27 Februari 1986. Perjalanan akademiknya sangat mengesankan.

Dia merupakan lulusan Al-Azhar al-Syarif, Mesir, pada program sarjana Jurusan Hadis. Pendidikan masternya ditempuh di dua tempat sekaligus, yakni UIN Ar-Raniry (Fiqh Modern) dan IIQ Jakarta (Ulumul Qur’an dan Ulumul Hadis).

Puncaknya, dia meraih gelar Doktor (S-3) dengan predikat Cum Laude dari Universitas Bakht al-Ruda, Sudan, pada tahun 2017.

Dedikasinya di dunia pendidikan sangat luas, mulai dari menjabat sebagai Ketua STAI Al-Washliyah Banda Aceh (2018–2022) hingga memimpin berbagai lembaga pendidikan seperti Dayah Samudera Pasai Madani.

Selain buku “55 Ulama Kharismatik Aceh”, karya-karyanya yang lain seperti “Meraih Kebeningan Hati” (2020) dan “Fatwa Moderat” (2019) menunjukkan konsistensinya dalam jalur literasi dakwah.

Apa yang dilakukan Ustaz Nurkhalis sebenarnya adalah upaya menyambung “estafet pena” yang telah menjadi tradisi agung para ulama terdahulu. Dalam sejarah Islam, menulis adalah bagian yang tak terpisahkan dari tradisi keilmuan.

Para ulama bukan hanya mengajar di depan kelas atau di atas podium, melainkan juga arsitek peradaban melalui kitab, risalah, hingga karya sastra. Mereka memahami betul bahwa pena adalah senjata yang melintasi ruang dan waktu. Ia adalah suara yang tetap terdengar meski pemiliknya telah tiada.

Di Nusantara, produktivitas tradisi ini sangat kental. Kita mengenal Syekh Nawawi al-Bantani, menyanyikan “Sayyidul Ulamail Hijaz”, yang menulis hingga 114 judul kitab. Ada pula Syekh Abdurrauf Singkel (Teungku Syiah Kuala) dengan tafsir “Turjuman al-Mustafid”-nya yang monumental.

Di Minangkabau, ada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, gurunya para ulama Nusantara yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram. Ada juga Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, menyanyikan “Musnid Dunya” yang karya-karyanya menjadi rujukan ulama dunia hingga hari ini.

Menulis bagi para ulama adalah cara menjaga keaslian ilmu.

Bahkan di Kairo, kata Ustaz Nurkhalis, terdapat Pustaka Bab al-Halabi yang secara khusus menjaga dan menerbitkan karya-karya ulama Nusantara (Jawi), yang hingga kini masih diburu oleh para peneliti dunia, termasuk Mufti senior Mesir, Syekh Ali Jum’ah.

Tradisi literasi ini jugalah yang diteruskan oleh Buya Hamka di era modern. Melalui karya-karya seperti “Tafsir Al-Azhar” hingga karya-karya sastranya yang tidak hanya membawa pikiran tetapi juga perasaan sehingga siapa pun yang membaca tersentuh untuk menyelami lautan ilmu dan hikmah di dalamnya.

Hamka membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dapat dibuktikan jika disampaikan dengan bahasa yang indah dan humanis.

Pertemuan saya dengan Ustaz Nurkhalis di Padang Panjang memberikan pesan filosofis yang dalam, bahwa raga manusia niscaya akan tiada, namun pemikiran yang diabadikan dalam karya akan tetap hidup sebagai kompas peradaban.

Melalui setiap goresan penanya, Dr. Nurkhalis Mukhtar tidak hanya merawat ingatan sejarah, tetapi juga membangun jembatan intelektual yang kokoh menuju masa depan. Ia sedang menanam benih peradaban yang buahnya akan dipetik oleh generasi mendatang, jauh setelah pena di tangan diletakkan.[]

*Penulis adalah Muhammad Subhan, pegiat literasi, dan pendiri sekolah menulis elipsis.

Editor : Ikbal Fanika
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup