ADVERTISEMENT

140 Titik Panas Terdeteksi di Aceh, BMKG Minta Pemda dan Warga Waspadai Potensi Karhutla

Sebanyak 140 titik panas terpantau di Aceh melalui sensor satelit MODIS dan VIIRS. [Foto: Ilustrasi Karhutla/Freepik)
Ringkasan Berita
  • BMKG Aceh mendeteksi 140 titik panas di Aceh pada 8 Maret 2026, meningkat tajam dari 52 titik sehari sebelumnya.
  • Aceh Selatan menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak yaitu 25 titik, disusul Nagan Raya, Aceh Singkil, dan Aceh Timur.
  • Dua hotspot berada pada zona merah di Nagan Raya dan Aceh Timur yang berpotensi menjadi titik api.

Inisiatif Logo, Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peringatan ini disampaikan setelah terdeteksinya 140 titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Aceh pada Minggu, 8 Maret 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMKG Aceh, Anang Arianto, mengatakan jumlah titik panas tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan sehari sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Pada Sabtu, 7 Maret 2026, jumlah hotspot yang terpantau masih berada pada angka 52 titik, namun pada Minggu, 8 Maret 2026, jumlahnya melonjak menjadi 140 titik.

Data tersebut diperoleh dari hasil pemantauan Sensor MODIS pada Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, serta NOAA20/VIIRS selama periode 7 Maret 2026 pukul 00.00 WIB hingga 23.00 WIB. Hasil pemantauan menunjukkan sebaran titik panas dengan tingkat kepercayaan yang berbeda-beda.

ADVERTISEMENT

“Wilayah Aceh Selatan mendominasi titik panas dengan sebaran 25 titik,” kata Anang dalam laporan resmi yang diterima RRI Sabang, Minggu, 8 Maret 2026.

Selain Aceh Selatan, masing-masing 16 titik panas juga terpantau di wilayah Nagan Raya, Aceh Singkil, dan Aceh Timur.

ADVERTISEMENT

Anang menambahkan, dari total temuan tersebut terdapat dua titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi atau zona merah, masing-masing berada di Nagan Raya dan Aceh Timur. Zona merah menunjukkan potensi kebakaran yang tinggi dan membutuhkan perhatian serta penanganan segera.

Selain daerah-daerah tersebut, sejumlah hotspot juga terpantau di wilayah lain di Aceh, seperti Aceh Utara, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Subulussalam, Aceh Tamiang, Aceh Besar, Aceh Jaya, Gayo Lues, Pidie, Bireuen, Bener Meriah, dan Lhokseumawe.

Menurut Anang, tingkat kepercayaan hotspot diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu zona hijau (rendah), zona kuning (sedang atau siaga), dan zona merah (tinggi).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan bahwa titik panas yang telah berada pada zona merah umumnya mengindikasikan kemungkinan besar sudah menjadi titik api di lapangan.

Karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Cara tersebut dinilai berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas, terutama ketika kondisi cuaca mulai mengarah ke musim kemarau.[]

Editor : Yurisman
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup