ADVERTISEMENT

Kisah Novi dan Keluarga Mengais Rezeki dari Air Tebu dan Kelapa Muda saat Ramadhan

Novi bersama suami dan kedua anaknya melayani pembeli air tebu dan kelapa muda di lapak sederhana mereka di Jalan Irian, Aceh Barat Daya. [Foto dokpri].

Inisiatif Logo, Blangpidie — Langit di atas Jalan Irian, Kabupaten Aceh Barat Daya, perlahan berubah jingga. Arus kendaraan melambat. Sejumlah pengendara menepi, sebagian membuka helm sambil menunjuk deretan botol minuman di bawah tenda sederhana di tepi jalan.

Di balik meja kayu itu, Novi berdiri sigap. Botol-botol air tebu berwarna kuning keruh tersusun rapi, dijual Rp5 ribu per botol.

ADVERTISEMENT

Di sampingnya, kelapa muda telah dipersiapkan untuk berbagai varian, kelapa murni segar Rp7 ribu per bungkus, kelapa dengan sirup merah Rp10 ribu, dan kelapa muda dengan sirup serta susu Rp13 ribu per bungkus.

Sore itu Sabtu (21/2/2026), bukan hanya Novi yang bekerja. Suaminya turut membantu membelah kelapa dan menyiapkan airnya sejak siang.

ADVERTISEMENT

Dua anak mereka, Rizqi dan Afdhal, ikut ambil bagian. Rizqi menuangkan air tebu ke dalam botol, sementara Afdhal menyiapkan plastik dan menyerahkan pesanan kepada pembeli. Seluruh keluarga ikut serta, berbagi peran tanpa banyak instruksi.

“Kalau Ramadan begini, kami semua turun tangan,” kata Novi sambil mengikat plastik pesanan.

ADVERTISEMENT

Ia mengaku berjualan setiap hari selama bulan puasa untuk menambah penghasilan keluarga.

“Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak-anak,” ujarnya.

Suaminya lebih banyak bekerja di bagian belakang meja, memecah kelapa satu per satu. Tangannya cekatan, sesekali ia menyeka keringat di dahinya. “Yang penting pembeli puas dan datang lagi,” sebutnya singkat.

ADVERTISEMENT

Menjelang magrib, pembeli berdatangan silih berganti. Rahmat, 34 tahun, salah satunya. Ia mengaku hampir setiap Ramadan membeli takjil di lapak itu.

“Air tebunya segar, manisnya pas. Harganya juga terjangkau,” katanya sebelum berlalu membawa dua botol dan satu bungkus kelapa sirup.

Pembeli lain, Siti, memilih kelapa muda dengan sirup dan susu. “Anak-anak di rumah sukanya yang ini,” ujarnya.

Waktu berjalan cepat. Deretan botol di meja mulai berkurang. Suara kendaraan, percakapan singkat, dan bunyi plastik yang diikat bercampur dalam suasana senja. Ketika azan magrib berkumandang, keluarga kecil itu berhenti sejenak.

Bagi Novi dan keluarganya, Ramadan bukan hanya tentang berdagang minuman manis. Di Jalan Irian, sore hari menjadi ruang kebersamaan, tempat mereka bekerja bersama, berbagi tugas, dan menjaga harapan agar tetap menyala dari satu Ramadan ke Ramadan berikutnya.[]

Editor : Yurisman
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup