BPS: Jumlah Penduduk Miskin Aceh Berkurang 1,36 Ribu Orang
- Jumlah penduduk miskin Aceh pada September 2025 tercatat sekitar 703 ribu orang, turun 1,36 ribu orang dibandingkan Maret 2025.
- Penurunan kemiskinan didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga, kenaikan upah buruh, dan turunnya pengangguran.
- Kemiskinan masih lebih tinggi di perdesaan (14,51 persen) dibandingkan perkotaan (8,15 persen).
, Banda Aceh – Jumlah penduduk miskin di Provinsi Aceh kembali menunjukkan tren penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat, pada September 2025 jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 703 ribu orang, berkurang sekitar 1,36 ribu orang dibandingkan kondisi Maret 2025.
“Sejalan dengan penurunan jumlah penduduk miskin tersebut, persentase penduduk miskin di Aceh juga mengalami penurunan sebesar 0,11 persen poin, dari sebelumnya menjadi 12,22 persen pada September 2025,” kata Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, SST, M.Si dalam rilis media, Kamis (5/2/2026).
Agus menjelaskan, penurunan angka kemiskinan ini tidak terlepas dari membaiknya sejumlah indikator sosial ekonomi. Peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga, kenaikan rata-rata upah buruh, serta menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi faktor utama yang mendorong perbaikan kondisi kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, tantangan kemiskinan di Aceh masih cukup besar, terutama di wilayah perdesaan. Data BPS menunjukkan, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mencapai 14,51 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan yang sebesar 8,15 persen. Kondisi ini mengindikasikan masih adanya kesenjangan akses dan peluang ekonomi antara desa dan kota.
Selain itu, garis kemiskinan Aceh pada September 2025 tercatat sebesar Rp715.103 per kapita per bulan, atau meningkat 5,75 persen dibandingkan Maret 2025. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas makanan yang masih mendominasi struktur pembentukan garis kemiskinan.
BPS menilai, meskipun jumlah penduduk miskin mengalami penurunan, tekanan ekonomi akibat kenaikan harga pangan dan dampak bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 tetap perlu menjadi perhatian.
Upaya pengendalian inflasi pangan, penguatan ekonomi perdesaan, serta penciptaan lapangan kerja dinilai menjadi kunci untuk menjaga tren penurunan kemiskinan di Aceh ke depan.[]
