ADVERTISEMENT

Safaruddin Tegaskan Shalat Berjamaah Jadi Benteng Anak Muda dari Narkoba dan Judi Online

Bupati Aceh Barat Daya Dr. Safaruddin menyampaikan sambutan saat pengukuhan pengurus KONI Abdya di Aula Gedung DPRK Abdya, Rabu (11/2/2026). [Foto: Fitria Maisir/INISIATIF.CO].
Ringkasan Berita
  • Bupati Abdya Safaruddin prihatin terhadap maraknya narkoba dan judi online yang membayangi generasi muda.
  • Pemkab Abdya menerbitkan Perbup Nomor 41 tentang Peukong Agama, termasuk penguatan shalat berjamaah sebagai pembinaan karakter.
  • Safaruddin menegaskan tanggung jawab pemimpin tidak hanya administratif, tetapi juga moral dan keimanan dalam membina masyarakat.

Inisiatif Logo, Blangpidie — Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Dr. Safaruddin menyoroti berbagai persoalan yang membayangi generasi muda di daerahnya, mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga maraknya judi online.

Pernyataan itu disampaikan Safaruddin saat menghadiri pengukuhan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Abdya di Aula Gedung DPRK Abdya, Rabu (11/2/2026).

ADVERTISEMENT

Dalam sambutannya, Safaruddin menegaskan masa depan Abdya sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda hari ini. Namun, ia mengaku prihatin terhadap sejumlah fenomena sosial yang dinilai kian mengkhawatirkan.

“Kita lihat kondisi anak muda sekarang. Fenomena narkoba dan judi online masih sangat tinggi, ditambah berbagai persoalan sosial lainnya. Ini menjadi perhatian serius bagi kita semua,” ujar Safaruddin.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat dibebankan pada satu pihak semata. Pemerintah daerah, keluarga, lembaga pendidikan, hingga masyarakat luas harus terlibat aktif dalam pembinaan generasi muda.

Sebagai langkah konkret, Safaruddin bersama Wakil Bupati Abdya telah menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 41 tentang Peukong Agama. Salah satu poin dalam regulasi tersebut mengatur pelaksanaan shalat berjamaah sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.

ADVERTISEMENT

Ia menilai pendekatan spiritual menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjadi benteng dari berbagai bentuk kemaksiatan.

Safaruddin bahkan menceritakan pengalamannya saat azan berkumandang. Ia memilih segera menuju masjid untuk menunaikan shalat Ashar berjamaah.

“Waktu azan berkumandang, saya langsung bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat Ashar. Alhamdulillah, banyak yang ikut, tapi masih banyak juga yang belum. Setingkat bupati yang mengajak saja belum tentu bisa menggugah semuanya untuk shalat berjamaah, apalagi kalau hanya mengandalkan kesadaran sendiri di rumah,” katanya.

ADVERTISEMENT

Ia menegaskan, tanggung jawab seorang pemimpin bukan hanya bersifat administratif, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan keimanan.

“Dalam keadaan apa pun, kita tidak tahu kapan hidup dan mati. Saya sebagai pemimpin punya tanggung jawab moral dan iman untuk menyampaikan, ayo kita menegakkan shalat. Seburuk apa pun kita hari ini, mari kita tegakkan shalat,” ujarnya.

Menurut Safaruddin, shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana pembinaan diri agar terhindar dari perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Walaupun kita sibuk dengan urusan dunia, ayo kita shalat. Karena shalat itulah yang menuntun kita untuk lebih menjaga diri dari kemaksiatan,” tuturnya.

Melalui penguatan regulasi dan pendekatan religius tersebut, Pemerintah Kabupaten Abdya berharap pembinaan nilai keagamaan dapat berjalan seiring dengan pengembangan olahraga dan kepemudaan. Generasi muda Abdya diharapkan tumbuh tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter dan integritas yang kuat.[]

Editor : Yurisman
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup