Produksi Beras Aceh Diperkirakan Hanya 158,93 Ribu Ton di Awal 2026
- Produksi beras Aceh awal 2026 diperkirakan 158,93 ribu ton, turun 112,37 ribu ton dibanding periode yang sama tahun 2025.
- Luas panen padi 2025 menyusut 5,98 persen menjadi 301,20 ribu hektare atau berkurang 18,01 ribu hektare.
- Sebanyak 27.161 hektare sawah gagal panen akibat banjir, longsor, dan kekeringan; pemerintah siapkan optimasi lahan dan pompanisasi.
, Banda Aceh – Produksi beras Aceh pada awal tahun 2026 diprediksi mengalami penurunan tajam. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh memperkirakan produksi beras periode Januari–Maret 2026 hanya mencapai 158,93 ribu ton.
Angka tersebut merosot sekitar 112,37 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 271,29 ribu ton.
Penurunan signifikan ini menjadi sinyal peringatan bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Ketua Tim Statistik Produksi BPS Aceh, Hendra Gunawan, menyampaikan bahwa tren penurunan ini tidak terlepas dari menyusutnya luas panen sepanjang 2025.
Secara tahunan, luas panen padi Aceh pada 2025 tercatat sebesar 301,20 ribu hektare atau turun 5,98 persen dibandingkan 2024. Artinya, terdapat pengurangan sekitar 18,01 ribu hektare lahan panen.
Penurunan produksi padi terbesar terjadi di sejumlah daerah sentra seperti Kabupaten Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Besar.
“Di sisi lain, terdapat juga kabupaten yang mengalami peningkatan produksi padi cukup besar, di antaranya Pidie, Aceh Barat Daya, dan Aceh Barat,” sebut Hendra dalam Workshop Statistik Pertanian di kantor BPS Aceh, Selasa (10/02/2026).
Banjir dan Kekeringan Jadi Faktor Utama
Selain penyusutan luas panen, faktor bencana alam turut memperparah kondisi produksi.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Safrizal, mengungkapkan bahwa hingga November 2025, lahan padi yang mengalami gagal panen mencapai 27.161 hektare. Gagal panen tersebut dipicu oleh banjir, tanah longsor, serta kekeringan yang melanda sejumlah wilayah sentra pertanian.
“Kita upayakan untuk mengantisipasi hal ini dengan optimasi lahan rawa, pompanisasi, bantuan mesin, irigasi perpompaan, serta perpipaan, di samping program rehabilitasi yang kita jalankan bersama Kementerian,” terangnya.
Menurutnya, langkah-langkah tersebut menjadi strategi jangka pendek dan menengah untuk menjaga produktivitas lahan serta meminimalkan risiko penurunan produksi di musim tanam berikutnya.
Tantangan Ketahanan Pangan 2026
Penurunan produksi beras di awal 2026 menjadi tantangan serius, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tingkat daerah. Sebagai salah satu provinsi dengan sektor pertanian yang cukup dominan, fluktuasi produksi beras di Aceh memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan petani dan daya beli masyarakat.
Jika kondisi cuaca ekstrem dan gangguan iklim masih berlanjut, tekanan terhadap produksi pangan diperkirakan belum sepenuhnya mereda.
Pemerintah daerah kini berpacu dengan waktu untuk memperkuat infrastruktur irigasi, mempercepat rehabilitasi lahan terdampak, serta memastikan musim tanam berikutnya berjalan optimal demi menjaga ketahanan pangan Aceh sepanjang 2026. (Anggia Putri).
