Prabowo–Korsel Sepakat Perkuat Kerja Sama, Ekonomi hingga Teknologi Jadi Fokus
- Indonesia dan Korea Selatan resmi meningkatkan kemitraan menjadi Strategis Komprehensif Khusus.
- Kerja sama difokuskan pada lima pilar, termasuk ekonomi, teknologi AI, dan energi hijau.
- Kedua negara menargetkan peningkatan investasi, perdagangan, dan penguatan peran regional.
, Seoul — Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat meningkatkan hubungan bilateral ke level lebih tinggi dengan mengubah Kemitraan Strategis Khusus menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat kerja sama jangka panjang demi mendorong pertumbuhan inklusif dan kemakmuran bersama.
Kesepakatan tersebut diumumkan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto bersama Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dalam pernyataan bersama yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI pada Rabu (8/4/2026).
“Kedua pemimpin mengumumkan peningkatan Kemitraan Strategis Khusus menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus untuk pertumbuhan inklusif dan kemakmuran bersama di masa depan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kesepakatan ini merupakan hasil kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Korea Selatan pada 31 Maret hingga 1 April 2026, atas undangan Presiden Lee Jae Myung.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin menilai hubungan Indonesia–Korea Selatan yang telah terjalin sejak 1973 terus berkembang signifikan, mencakup bidang diplomasi, keamanan, ekonomi, budaya, hingga kerja sama regional dan global.
Kemitraan ini juga dinilai telah berkontribusi terhadap stabilitas dan kemakmuran kawasan, sekaligus menjadi fondasi penting untuk penguatan kerja sama di masa depan.
Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus ini akan difokuskan pada lima pilar utama kerja sama, yakni: politik dan keamanan, perdagangan, investasi, dan industri, teknologi canggih, transisi energi, dan ekonomi hijau, sosial budaya dan pertukaran masyarakat dan kerja sama regional dan global
Di bidang politik dan keamanan, kedua negara sepakat meningkatkan komunikasi lintas pemerintahan serta memperluas kerja sama antar parlemen guna memperkuat kepercayaan bilateral.
Dalam sektor ekonomi, Indonesia dan Korea Selatan berkomitmen memperkuat investasi dua arah serta memperluas perdagangan bilateral.
Kerja sama juga akan difokuskan pada sektor strategis seperti manufaktur canggih, otomotif, baja, semikonduktor, hingga industri maritim dan mineral penting.
Kedua pemimpin juga menekankan pentingnya menciptakan iklim bisnis yang stabil dan dapat diprediksi bagi pelaku usaha di kedua negara.
Di bidang teknologi, kedua negara menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama dalam kecerdasan buatan (AI), transisi energi, dan ekonomi hijau.
Salah satu langkah konkret adalah peluncuran inisiatif Global AI Universal Basic Society (AI-UBS), yang bertujuan memastikan teknologi AI dapat dimanfaatkan secara inklusif oleh masyarakat.
Melalui integrasi ekosistem AI kedua negara, kerja sama ini diharapkan mampu menjawab tantangan global di sektor kesehatan, pendidikan, hingga ketahanan pangan.
Kerja sama sosial budaya juga menjadi perhatian utama. Kedua negara sepakat memperkuat pertukaran budaya dan industri kreatif, termasuk pembentukan komite kerja sama industri kreatif tingkat tinggi.
Selain itu, penguatan sektor pendidikan juga menjadi prioritas untuk mencetak talenta global yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Di tingkat regional, Presiden Prabowo mengapresiasi dukungan Korea Selatan terhadap sentralitas ASEAN, termasuk visi Komunitas ASEAN 2045.
Ia juga menyambut rencana Korea Selatan menjadi tuan rumah KTT peringatan ASEAN–Korea Selatan pada 2029.
Kedua negara sepakat memperkuat kerja sama dalam menghadapi isu global, termasuk kejahatan transnasional dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Peningkatan status kemitraan ini menandai babak baru hubungan Indonesia dan Korea Selatan yang lebih konkret, inovatif, dan berorientasi masa depan.[]
