Pertanian Masih Jadi Penopang Utama Ekonomi Aceh, Kontribusi 32,74 Persen
- BPS Aceh mencatat sektor pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi Aceh tahun 2025 dengan kontribusi 32,74 persen terhadap PDRB.
- Dua sektor terbesar berikutnya adalah perdagangan 15,10 persen dan administrasi pemerintahan 8,95 persen.
- Perlambatan ekonomi Aceh pada akhir 2025 turut dipengaruhi bencana hidrometeorologi, termasuk dampak Siklon Tropis Senyar yang memukul produksi pertanian dan distribusi.
, Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat struktur perekonomian Aceh sepanjang tahun 2025 masih didominasi oleh sektor pertanian. Lapangan usaha pertanian berkontribusi sebesar 32,74 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh.
Dalam keterangan resminya, Kamis, (5/2/2026) BPS menilai, dominasi sektor pertanian menjadikan sektor ini tetap menjadi fondasi utama ekonomi Aceh, sekaligus berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja di daerah.
Selain pertanian, dua lapangan usaha lain yang juga menjadi penopang ekonomi Aceh adalah sektor perdagangan dengan kontribusi 15,10 persen, serta administrasi pemerintahan sebesar 8,95 persen.
Ketiga sektor tersebut tercatat sebagai tulang punggung ekonomi Aceh, baik dari sisi kontribusi terhadap PDRB maupun perannya dalam menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Kemudaian, BPS juga melaporkan bahwa perekonomian Aceh pada Triwulan IV-2025 mengalami kontraksi sebesar 0,05 persen (q-to-q).
Sementara itu, jika dibandingkan dengan Triwulan IV-2024, ekonomi Aceh terkontraksi 1,61 persen (y-on-y).
Meski demikian, secara kumulatif sepanjang 2025, ekonomi Aceh masih tumbuh 2,97 persen (c-to-c). Namun capaian tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang mencapai 4,66 persen.
BPS menjelaskan, perlambatan ekonomi Aceh pada akhir 2025 tidak terlepas dari gangguan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi. Salah satu yang paling berdampak adalah Siklon Tropis Senyar.
Bencana tersebut menyebabkan penurunan produksi pertanian akibat gagal panen, kerusakan perkebunan dan hortikultura, serta terganggunya aktivitas industri.
Selain itu, kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, hingga jaringan listrik turut memperlambat konektivitas dan mobilitas barang serta jasa. Kondisi ini berdampak langsung pada distribusi dan melemahnya daya beli masyarakat.
Meski begitu, proses pemulihan disebut mulai berjalan melalui penyaluran bantuan pemerintah, dukungan masyarakat, serta pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur secara bertahap.
Dari sisi pertumbuhan lapangan usaha sepanjang 2025, BPS mencatat sektor transportasi dan pergudangan menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 6,00 persen.
Selanjutnya disusul penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 4,81 persen, serta industri pengolahan sebesar 4,63 persen.
Namun, meski beberapa sektor tumbuh tinggi, BPS menegaskan sumber pertumbuhan ekonomi terbesar tetap berasal dari sektor pertanian. Setelah itu disusul sektor perdagangan serta transportasi dan pergudangan.
BPS menilai dominasi sektor pertanian di Aceh menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi daerah masih sangat bergantung pada kekuatan sektor primer.
Karena itu, stabilitas produksi pertanian, kesiapan menghadapi cuaca ekstrem, serta perbaikan infrastruktur pendukung menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan ekonomi Aceh, terutama ketika menghadapi bencana hidrometeorologi.[]
