Orasi Ilmiah di Wisuda STAI PTIQ Aceh, Prof Syamsul Rijal: SDM Unggul Harus Dibangun dari Moral dan Amanah
- Prof. Dr. Syamsul Rijal menegaskan integritas dan moralitas adalah fondasi utama dalam membangun SDM unggul, bukan hanya keterampilan teknis.
- Ia menekankan pembinaan SDM dalam Islam harus menyentuh nilai keimanan, kejujuran, disiplin, kerja keras, dan amanah secara berkelanjutan.
- Wisuda STAI PTIQ Aceh diikuti 41 mahasiswa dan diharapkan melahirkan agen perubahan yang membawa nilai Islam dalam kehidupan sosial dan dunia kerja.
, Calang — Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.Ag menegaskan integritas dan moralitas menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
Pernyataan itu disampaikan Prof Syamsul saat menyampaikan orasi ilmiah pada prosesi Wisuda Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) PTIQ Aceh yang digelar di Aula Kantor Bupati Aceh Jaya, Sabtu (7/2/2026).
Menurut dia, pembinaan SDM tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan teknis dan produktivitas. Dalam perspektif Islam, pembentukan karakter, tanggung jawab, serta komitmen moral justru menjadi dasar yang menentukan kualitas individu dan lembaga.
“Pembinaan SDM dalam Islam harus menyentuh aspek keimanan, kejujuran, disiplin, kerja keras, dan amanah,” ujar Syamsul.
Ia menjelaskan, tujuan akhir pembinaan tersebut adalah melahirkan manusia yang unggul secara intelektual, profesional, sekaligus spiritual. Karena itu, proses pengembangan harus dilakukan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan.
Syamsul juga menekankan pentingnya peran pimpinan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan SDM.
Menurutnya, keteladanan, sistem evaluasi yang adil, serta komunikasi yang efektif menjadi bagian dari strategi pembinaan yang komprehensif.
Di sisi lain, ia menyoroti sejumlah tantangan yang kerap dihadapi lembaga pendidikan dan organisasi, seperti rendahnya motivasi, keterbatasan fasilitas, lemahnya kepemimpinan, hingga kurang optimalnya evaluasi kinerja.
“Tanpa pendekatan yang terintegrasi dan kerja sama seluruh unsur lembaga, pembinaan SDM akan sulit mencapai hasil yang optimal,” katanya.
Wisuda STAI PTIQ Aceh tahun ini diikuti 41 mahasiswa. Momentum tersebut, menurut Syamsul, diharapkan tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga titik awal lahirnya agen-agen perubahan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial dan dunia kerja.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua STAI PTIQ Aceh, Musa Fadhil, berharap para wisudawan dapat menjadi pioner kebaikan di tengah masyarakat.
“Wisudawan harus menjadi pendorong dan penggerak pembangunan yang inovatif di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan PTIQ Aceh, Jailani M. Yunus, mengingatkan bahwa gelar akademik membawa tanggung jawab sosial yang besar. Ia menegaskan pentingnya menjaga integritas dan komitmen moral setelah menyelesaikan studi.
