ADVERTISEMENT

Ketua DEMA FTK UIN Ar-Raniry Kecam Dugaan Intimidasi Aktivis Mahasiswa di Aceh Tenggara

Al Ghifari Fandra. [Foto: Dokpri]
Ringkasan Berita
  • Ketua DEMA FTK UIN Ar-Raniry mengecam dugaan intimidasi terhadap aktivis mahasiswa Aceh Tenggara.
  • Intimidasi dinilai melanggar kebebasan berpendapat dan merusak prinsip demokrasi.
  • Pemerintah daerah dan aparat diminta memberi klarifikasi serta mengusut kasus secara transparan.

Inisiatif Logo, Banda Aceh — Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Al Ghifari Fandra, mengecam keras dugaan intimidasi yang dialami aktivis mahasiswa Aceh Tenggara yang tergabung dalam Amas Muda.

Dugaan intimidasi tersebut disebut terjadi setelah para aktivis menyuarakan kritik terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara.

ADVERTISEMENT

Menurut Al Ghifari, tindakan semacam itu tidak hanya melukai kebebasan berekspresi, tetapi juga mencederai nilai-nilai demokrasi yang dijamin konstitusi.

Ia menyebut, kebebasan berpendapat merupakan hak dasar warga negara yang tidak boleh dibungkam oleh kekuasaan apa pun. Mahasiswa, kata dia, memiliki peran strategis sebagai kontrol sosial dalam mengawal jalannya pemerintahan.

ADVERTISEMENT

“Demokrasi tidak boleh tunduk pada kekuasaan. Kritik adalah bagian dari tanggung jawab mahasiswa kepada rakyat,” ujar Al Ghifari, Senin (5/1/2026).

Lebih lanjut, Al Ghifari mendesak Bupati Aceh Tenggara untuk memberikan klarifikasi secara terbuka terkait dugaan intimidasi tersebut. Ia juga meminta aparat penegak hukum agar turun tangan mengusut kasus ini secara adil, profesional, dan transparan.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, jika dugaan intimidasi terhadap aktivis dibiarkan, hal tersebut dapat menciptakan preseden buruk bagi iklim demokrasi dan kebebasan sipil di Aceh, khususnya di Aceh Tenggara.

Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Aceh Tenggara belum memberikan pernyataan resmi apapun terkait tudingan intimidasi terhadap aktivis mahasiswa tersebut. (Ayu Wulandari).

Editor : Ikbal Fanika
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup