ADVERTISEMENT

Banjir Bandang Kembali Terjang Aceh Tengah, Jembatan Darurat Ambruk, Sejumlah Desa Terisolasi

Kondisi jembatan darurat yang ambruk diterjang banjir bandang di Aceh Tengah, mengakibatkan akses warga terputus dan sejumlah desa kembali terisolasi. [Foto: Istimewa].
Ringkasan Berita
  • Banjir bandang dan longsor di Aceh Tengah menyebabkan dua jembatan darurat ambruk dan sejumlah desa kembali terisolasi.
  • BPBA memastikan tidak ada korban jiwa, sementara alat berat dikerahkan untuk membuka akses dan membangun jembatan darurat.
  • Tokoh daerah mendorong pembangunan infrastruktur permanen serta peningkatan mitigasi bencana karena kejadian terus berulang.

Inisiatif Logo, Takengon — Banjir bandang dan tanah longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah akibat hujan berintensitas tinggi sejak Selasa lalu. Bencana ini menyebabkan dua jembatan darurat ambruk dan membuat sejumlah desa kembali terisolasi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, menyebutkan bencana terjadi di beberapa kecamatan, di antaranya Celala, Bintang, Linge, Kebayakan, dan Ketol. Wilayah terdampak mencakup Desa Sepakat (Celala), Desa Gele Pulo serta Jalan Bintang–Simpang Kraf (Bintang), hingga Desa Lumut (Linge).

ADVERTISEMENT

“Akibat banjir bandang ini, dua jembatan darurat yang dibangun saat bencana sebelumnya kembali ambruk,” ujarnya.

Kerusakan paling parah terjadi di Kecamatan Ketol. Jembatan darurat yang menjadi akses utama warga hanyut diterjang arus deras, menghambat mobilitas masyarakat dan memutus konektivitas antarwilayah.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, BPBA memastikan tidak ada korban jiwa maupun laporan pengungsi dalam peristiwa tersebut.

“Tidak ada korban jiwa dan belum ada laporan pengungsi,” kata Bahron.

ADVERTISEMENT

Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bersama instansi terkait terus melakukan penanganan di lapangan. Tiga unit alat berat telah dikerahkan untuk mempercepat pembukaan akses jalan serta pembangunan kembali jembatan darurat.

“Jalan Bintang–Simpang Kraf sudah kembali normal. Untuk jembatan yang ambruk, sedang dilakukan mobilisasi alat berat guna pembangunan jembatan darurat,” jelasnya.

Wakil Ketua MPU Aceh Tengah, Tgk Mursyidin, menilai bencana yang terus berulang harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak.

ADVERTISEMENT

“Bencana ini bukan yang pertama dan terus berulang. Diperlukan langkah serius dalam pencegahan serta penguatan infrastruktur,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor. Curah hujan yang masih tinggi dinilai berpotensi memicu bencana susulan.

“Kita harus bersama-sama menjaga alam agar kerusakan lingkungan tidak memperparah dampak saat musim hujan,” katanya.

Senada, Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menekankan pentingnya percepatan penanganan, khususnya pada akses transportasi yang terdampak.

“Penanganan harus cepat, terutama pada akses jalan dan jembatan, agar masyarakat tidak terisolasi terlalu lama,” ujarnya.

Ia menilai pembangunan jembatan darurat hanya solusi sementara. Ke depan, diperlukan infrastruktur permanen yang lebih kokoh dan tahan terhadap bencana.

“Jembatan darurat memang solusi cepat, tetapi bukan solusi jangka panjang. Ke depan perlu dibangun jembatan permanen yang lebih kokoh agar tidak rusak setiap kali bencana datang,” katanya.

Hingga kini, proses penanganan masih terus berlangsung. Petugas berupaya membuka akses serta memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga terus memantau kondisi di lapangan, mengingat potensi bencana susulan masih tinggi akibat curah hujan yang belum mereda.

Bencana berulang ini menjadi pengingat pentingnya penguatan mitigasi, kesiapsiagaan, serta sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman hidrometeorologi yang kian meningkat.[]

Editor : Yurisman
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup