Trump Bahas Kerja Sama Selat Hormuz dengan Iran, Muncul Wacana Tarif Kapal Global
- AS dan Iran membuka pembahasan kerja sama pengelolaan Selat Hormuz usai kesepakatan gencatan senjata dua pekan.
- Donald Trump mempertimbangkan skema usaha patungan, termasuk kemungkinan penerapan tarif bagi kapal yang melintas.
- Negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad dan berpotensi menentukan arah hubungan kedua negara ke depan.
, Washington — Wacana kerja sama antara Amerika Serikat dan Iran terkait pengelolaan jalur strategis Selat Hormuz mulai mengemuka di tengah momentum gencatan senjata dua pekan antara kedua negara.
Rencana tersebut diungkapkan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang menyebut ide itu masih dalam tahap pembahasan lanjutan.
“Itu adalah ide yang telah disampaikan presiden, seperti yang Anda ketahui, dan hal itu akan terus dibahas selama dua pekan ke depan,” kata Leavitt dalam konferensi pers, Rabu (8/4/2026).
Sebelumnya, laporan ABC News menyebut Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan skema kerja sama dengan Iran dalam bentuk usaha patungan. Skema tersebut mencakup rencana penerapan biaya tol bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global.
Namun demikian, Leavitt menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah AS saat ini adalah memastikan jalur pelayaran tersebut kembali beroperasi secara penuh tanpa hambatan, termasuk tanpa tambahan biaya yang dapat mengganggu arus perdagangan internasional.
Rencana ini mencuat tak lama setelah Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran pada Selasa malam (7/4). Dalam kesepakatan tersebut, Iran juga disebut telah menyetujui pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya sempat terganggu akibat eskalasi konflik.
Di sisi lain, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran memastikan bahwa pembicaraan lanjutan antara Teheran dan Washington akan digelar pada 10 April di Islamabad, Pakistan.
Pertemuan tersebut diperkirakan akan menjadi titik krusial dalam menentukan arah hubungan kedua negara, termasuk membahas isu strategis seperti keamanan kawasan, jalur energi global, hingga potensi kerja sama ekonomi yang sebelumnya sulit terwujud.
Wacana kerja sama pengelolaan Selat Hormuz ini sekaligus menjadi sinyal perubahan pendekatan dalam hubungan AS–Iran, dari konfrontasi militer menuju negosiasi yang lebih pragmatis—meski masih dibayangi ketidakpastian dan kepentingan geopolitik yang kompleks.
Jika terealisasi, skema tersebut berpotensi mengubah dinamika pengelolaan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, yang selama ini menjadi titik panas konflik sekaligus urat nadi distribusi energi global.[]
