ADVERTISEMENT

Minat Beli Tinggi, Harga Emas di Aceh Berpotensi Naik ke Rp8 Juta per Mayam

Aktivitas jual beli emas di Pasar Aceh, Banda Aceh. Harga emas awal 2026 terpantau stabil di kisaran Rp7,6 juta per mayam. [Foto: Dok. RRI]
Ringkasan Berita
  • Minat beli emas di Aceh masih mendominasi dengan komposisi 70 persen pembeli.
  • Harga emas saat ini stabil di Rp7,6 juta per mayam dan diprediksi bisa tembus Rp8 juta.
  • Aksi investor besar dan tingginya permintaan menjadi faktor utama potensi kenaikan harga.

Inisiatif Logo, Banda Aceh — Minat beli emas di Aceh masih tergolong tinggi memasuki awal tahun 2026. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga emas hingga menembus Rp8 juta per mayam, meskipun saat ini harga masih bertahan stabil di kisaran Rp7.600.000 per mayam.

Berdasarkan pantauan pada Minggu, 4 Januari 2026, harga emas di Pasar Aceh belum termasuk ongkos pembuatan tercatat stabil selama empat hingga lima hari terakhir. Stabilitas ini terjadi setelah harga emas sempat berfluktuasi pada akhir Desember 2025.

ADVERTISEMENT

Pedagang Toko Emas Italy Pasar Aceh, M. Dava Farah Sabirah, mengatakan bahwa tingginya minat beli masyarakat menjadi salah satu indikator kuat potensi kenaikan harga emas dalam waktu ke depan.

“Sekarang sekitar 70 persen masyarakat memilih membeli emas, hanya 30 persen yang menjual. Ini menunjukkan minat beli masih sangat tinggi,” ujar Dava.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, harga emas sebelumnya sempat melonjak dari Rp7,2 juta hingga Rp7,7 juta per mayam akibat dinamika pasar akhir tahun. Namun, aksi ambil untung investor asing menyebabkan harga kembali turun dan stabil di level Rp7,6 juta.

“Investor besar ini menjual untuk ambil untung. Tapi nanti akan ada waktunya mereka membeli lagi secara borongan. Kalau itu terjadi, harga emas akan naik signifikan. Prediksi ke depan, harga emas bisa tembus Rp8 juta per mayam,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

Tingginya minat beli emas juga tercermin dari kondisi pasar di kota-kota besar. Dava menyebutkan, sejumlah butik emas di Jakarta bahkan dilaporkan kehabisan stok akibat lonjakan permintaan masyarakat.

“Di Jakarta antreannya panjang dan stok kosong. Kalau di Banda Aceh masih ada stok, meskipun tidak berbondong-bondong. Daya beli masyarakat masih ada,” katanya.

Di sisi lain, transaksi penjualan emas tetap terjadi, namun lebih banyak dipicu oleh kebutuhan ekonomi mendesak. Masyarakat dari berbagai daerah seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, Takengon, hingga Pidie Jaya datang ke Banda Aceh untuk menjual emas karena keterbatasan toko emas di daerah masing-masing.

ADVERTISEMENT

“Banyak yang jual emas karena kebutuhan, seperti ongkos pulang kampung. Mahasiswa dan anak kos juga ada yang menjual emas,” ungkap Dava.

Memasuki awal tahun yang bertepatan dengan musim pernikahan, Dava juga mencatat adanya kenaikan daya beli mahar sekitar 15 persen. Namun, jumlah emas yang dijadikan mahar cenderung menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang jumlah mayam lebih sedikit karena harga emas sudah mahal. Kalau dulu 20 sampai 40 mayam itu biasa, sekarang sudah jarang,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini penentuan mahar emas lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kemampuan calon mempelai pria.
“Sekarang tidak lagi dipatok. Berapa mampunya. Satu mayam saja nilainya sudah tinggi,” pungkasnya.[]

Editor : Yurisman
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup