ADVERTISEMENT

Dua Jet Tempur AS Ditembak Jatuh di Iran, Pilot Dinyatakan Hilang

Pecahan jet AS yang jatuh (Kiri). Gambar helikopter CH-47 AS di Kuwait, yang menjadi sasaran Iran (Kanan). [Foto: India Today].
Ringkasan Berita
  • Dua pesawat tempur AS (F-15E dan A-10) ditembak jatuh, satu pilot hilang di wilayah Iran dan masih dalam pencarian.
  • Misi penyelamatan ikut diserang, sementara Iran meluncurkan operasi perburuan pilot dan menawarkan imbalan.
  • Konflik AS-Iran kian memanas, memicu ketegangan regional, serangan lintas negara, dan lonjakan harga minyak dunia.

Inisiatif Logo, Tehran — Dua pesawat tempur Amerika dilaporkan ditembak jatuh dalam satu hari, sementara seorang pilot hilang jauh di wilayah Iran dan operasi penyelamatan berada di bawah ancaman serangan.

Insiden ini menjadi pukulan signifikan bagi operasi militer AS, sekaligus memunculkan pertanyaan serius terkait dominasi udara yang selama ini diklaim Washington.

ADVERTISEMENT

Salah satu insiden utama melibatkan jet tempur F-15E milik AS yang ditembak jatuh di wilayah Iran saat menjalankan operasi tempur. Pesawat tersebut membawa dua awak.

Satu awak berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya hingga kini masih hilang. Upaya pencarian terus dilakukan di tengah kondisi yang sangat berisiko.

ADVERTISEMENT

Peristiwa ini menjadi kehilangan pertama pesawat tempur berawak AS di dalam wilayah Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu.

Pada hari yang sama, insiden terpisah terjadi ketika pesawat tempur A-10 Warthog milik AS ditembak jatuh di atas wilayah Kuwait.

ADVERTISEMENT

Menurut pejabat militer AS, pilot berhasil melontarkan diri dan kemudian ditemukan dalam kondisi selamat.

Rangkaian insiden ini disebut sebagai salah satu kemunduran paling serius bagi operasi udara AS sejak konflik berlangsung hampir lima minggu.

Upaya penyelamatan terhadap awak F-15E yang hilang juga tidak berjalan mulus. Dua helikopter Black Hawk yang dikerahkan untuk misi pencarian dilaporkan turut menjadi sasaran tembakan dari pihak Iran.

ADVERTISEMENT

Meski berhasil keluar dari wilayah udara Iran, insiden tersebut menegaskan tingginya risiko operasi militer bahkan dalam misi kemanusiaan sekalipun.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran meluncurkan operasi pencarian besar-besaran di wilayah barat daya negara itu untuk menemukan pilot AS yang hilang.

Pihak berwenang bahkan mengimbau warga sipil untuk melaporkan atau menangkap pilot tersebut, dengan imbalan bagi siapa pun yang berhasil menangkap atau membunuh “pasukan musuh yang bermusuhan”.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut situasi ini sebagai titik balik konflik.

Presiden AS Donald Trump diketahui telah menerima laporan langsung terkait perkembangan ini di Gedung Putih.

Namun, Trump berupaya meredam dampak insiden tersebut terhadap posisi militer AS.

“Tidak, sama sekali tidak. Tidak, ini perang,” katanya saat ditanya apakah kejadian ini akan memengaruhi negosiasi.

Pernyataan itu kontras dengan klaim sebelumnya bahwa AS memiliki kendali penuh atas wilayah udara Iran.

“Kita benar-benar memiliki pesawat yang terbang di atas Teheran. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Trump beberapa hari sebelum insiden terjadi.

Seiring meningkatnya konflik, ketegangan kini meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah. Iran dilaporkan melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS.

Serangan juga menyasar infrastruktur penting, termasuk fasilitas energi di Kuwait, yang memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan.

Lonjakan harga minyak dunia pun tak terhindarkan, menambah tekanan terhadap ekonomi global.

Para analis militer menilai jatuhnya dua pesawat tempur dalam waktu berdekatan menunjukkan bahwa bahkan sistem pertahanan udara yang terbatas tetap mampu menjadi ancaman serius.

Konflik yang telah menewaskan ribuan orang ini juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran bahkan menolak upaya pembicaraan ulang dengan pejabat AS di Islamabad, yang sebelumnya difasilitasi oleh Pakistan.

Dengan satu pilot AS masih hilang di wilayah Iran dan operasi militer terus berlangsung, situasi kini berada pada titik kritis.[]

Editor : Ikbal Fanika
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup