Unggul 7 Suara, Taufik Zas Terpilih Jadi Ketua PWI Aceh Selatan
- Muhammad Taufik Zas terpilih sebagai Ketua PWI Aceh Selatan periode 2026–2029 setelah meraih 7 suara dalam Konfercab di Banda Aceh.
- Dalam sambutan perdana, Taufik menegaskan kepemimpinannya merupakan amanah bersama untuk memperkuat solidaritas dan marwah organisasi.
- Pengurus baru diharapkan mampu meningkatkan kompetensi wartawan serta menjaga independensi dan etika pers di tengah tantangan digital.
, Banda Aceh — Muhammad Taufik Zas, resmi terpilih sebagai Ketua PWI Aceh Selatan periode 2026–2029 dalam Konferensi Cabang (Konfercab) yang berlangsung di Sekretariat PWI Aceh, Banda Aceh, Sabtu (28/2/2026).
Dalam pemungutan suara yang berlangsung tertib dan demokratis, Taufik meraih 7 suara sah, sementara Sudirman Hamid memperoleh 5 suara sah dari total 12 anggota yang memiliki hak pilih.
Proses tersebut menandai berakhirnya dinamika kompetisi internal sekaligus membuka babak baru konsolidasi organisasi.
Konfercab kali ini tidak sekadar forum pergantian kepemimpinan, melainkan ruang refleksi atas tanggung jawab profesi di tengah tantangan zaman.
Di tengah arus disrupsi digital dan derasnya informasi tanpa verifikasi, organisasi profesi dituntut kian teguh menjaga integritas dan etika.
Dalam sambutan perdananya, Taufik memilih nada rendah hati. Ia menegaskan bahwa hasil Konfercab bukanlah kemenangan personal, melainkan amanah kolektif yang harus dipikul bersama.
“Ini adalah tanggung jawab moral dan organisatoris yang dipercayakan oleh rekan-rekan semua kepada saya untuk memimpin PWI Aceh Selatan ke depan,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh anggota menempatkan perbedaan pilihan sebagai bagian dari kedewasaan berdemokrasi. Menurut dia, dialektika dan dinamika dalam forum organisasi merupakan energi sehat yang justru memperkaya perspektif.
“Proses telah selesai. Kini saatnya kita menyatukan kembali langkah, menjaga marwah organisasi, dan memperkuat solidaritas,” katanya.
Taufik juga menekankan pentingnya kepatuhan pada PD/PRT dan kode etik sebagai fondasi bersama. Baginya, organisasi yang kokoh bukanlah yang bebas dari perbedaan, melainkan yang konsisten berpegang pada aturan serta nilai-nilai profesionalisme.
Ia memastikan kepengurusan ke depan akan dijalankan secara inklusif, terbuka terhadap kritik, dan mengedepankan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan.
Di kalangan wartawan Aceh Selatan, nama Taufik bukanlah figur baru. Ia telah menapaki dunia jurnalistik selama sekitar dua dekade. Kariernya dimulai pada 2006 ketika masih mahasiswa semester II dengan bergabung di Harian Aceh.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Hukum, ia melanjutkan kiprah jurnalistiknya di Harian Serambi Indonesia hingga Februari 2025. Saat ini, ia dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana media daring antaran.id.
Selain aktif di dunia jurnalistik, Taufik juga pernah berkecimpung sebagai advokat. Latar belakang hukum tersebut dinilai memberi perspektif tambahan dalam memahami isu-isu perlindungan wartawan, kebebasan pers, dan akuntabilitas publik.
Pengalaman panjang itu menjadi modal sosial sekaligus moral dalam memimpin organisasi profesi di tingkat kabupaten.
Sejumlah anggota berharap kepengurusan baru mampu memperkuat kompetensi wartawan, meningkatkan kualitas karya jurnalistik, serta menjaga independensi di tengah tekanan ekonomi dan politik yang kerap menyertai industri media.
Sebagai organisasi profesi, PWI Aceh Selatan diharapkan tetap konsisten pada prinsip-prinsip etika jurnalistik dan Undang-Undang Pers, seraya membangun solidaritas internal yang sehat.
Di akhir keterangannya, Taufik memohon doa dan dukungan seluruh anggota. “PWI adalah rumah bersama. Tidak ada sekat, tidak ada kelompok. Yang ada hanyalah komitmen untuk menjaga kehormatan profesi dan menghadirkan karya jurnalistik yang bermartabat,” ujarnya.
Konfercab pun ditutup dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan—sebuah penanda bahwa demokrasi internal telah dilalui, dan persaudaraan profesi tetap menjadi fondasi utama perjalanan organisasi ke depan.[]
