ADVERTISEMENT

1.900 kapal tertahan di Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah

Ribuan kapal komersial terlihat tertahan di perairan sekitar Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang mengganggu jalur distribusi energi global. [Foto: Reuters].
Ringkasan Berita
  • 1.900 kapal tertahan di Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah.
  • Sekitar 190 juta barel minyak terjebak di kapal tanker.
  • Tarif angkutan global melonjak, rute alternatif sangat terbatas.

Inisiatif Logo, Tehran — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini berdampak langsung pada jalur pelayaran internasional. Sebanyak 1.900 kapal komersial dilaporkan tertahan di sekitar Selat Hormuz, khususnya di kawasan Teluk Persia, sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada 28 Februari 2026.

Sejak awal eskalasi, Teheran secara efektif membatasi akses ke jalur perairan strategis tersebut, terutama bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang. Akibatnya, lalu lintas maritim di salah satu jalur energi tersibuk dunia itu nyaris terhenti.

ADVERTISEMENT

Kapal-kapal yang telah bersiap melintasi selat terpaksa menghentikan perjalanan. Sebagian besar kini menjatuhkan jangkar di perairan terbuka sambil menunggu kepastian situasi keamanan.

Meski demikian, Iran menyatakan bahwa kapal dari negara selain Amerika Serikat dan Israel masih dapat melintas, selama tidak terlibat dalam agresi terhadap Iran dan mematuhi ketentuan keselamatan yang berlaku.

ADVERTISEMENT

Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa aturan di Selat Hormuz telah diubah dan kondisi tidak akan kembali seperti sebelum konflik.

Data pelacak kapal real-time dari MarineTraffic pada periode 20–22 Maret menunjukkan sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

Dari jumlah itu, tercatat 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal produk minyak, serta 211 kapal tanker minyak mentah. Selain itu, terdapat 174 kapal kontainer, 177 kapal kargo umum, serta puluhan kapal lainnya termasuk pengangkut gas, aspal, dan logistik berat.

Perusahaan analisis energi Vortexa memperkirakan sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk turunannya saat ini tertahan di atas kapal tanker di kawasan tersebut.

Dampak juga dirasakan pelaku industri pelayaran. Perusahaan Jerman Hapag-Lloyd melaporkan enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia akibat situasi keamanan yang belum kondusif.

ADVERTISEMENT

 Tarif Angkutan Melonjak, Rute Alternatif Terbatas

Gangguan di Selat Hormuz turut mendorong lonjakan biaya logistik global. Direktur analisis maritim Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, menyebut dampak terhadap pasar pelayaran akan sangat bergantung pada durasi penutupan jalur dan kebijakan Iran terhadap kapal yang diizinkan melintas.

Menurutnya, sejak 27 Februari, Baltic Dirty Tanker Index melonjak 49 persen, sementara Baltic Clean Tanker Index meningkat 78 persen hingga 20 Maret. Kenaikan juga terjadi pada tarif angkutan kontainer.

Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya harga bahan bakar, keterbatasan rute alternatif, serta penerapan biaya tambahan darurat oleh perusahaan pelayaran.

Dalam kondisi normal, sekitar 30 persen ekspor minyak global melalui jalur laut, 4 persen kargo curah kering, dan 3 persen volume kontainer melintasi Selat Hormuz. Namun, hanya sebagian kecil yang dapat dialihkan ke jalur alternatif.

Keterbatasan infrastruktur darat juga menjadi kendala, karena tidak mampu menampung volume distribusi sebesar jalur laut.

Saat ini, sekitar 5,5 persen armada kapal tanker dunia dan 1,5 persen armada kapal kontainer kargo kering dilaporkan berada di kawasan Teluk Persia, menambah kompleksitas situasi.[]

Editor : Ikbal Fanika
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup